Cari Blog Ini

Minggu, 23 Februari 2014

Love Is Empety Place

 
Cerita ini berbeda dari yang sebelumnya. Tidak ada sangkut pautnya dengan cerita sebelum-sebelumnya.


Author   : abdul aziz
Sinopis  :  rina agustin
Genre     :   romance, comedy, action



     Emely, sebuah nama panggilan yang cukup mempesona banyak orang. sayangnya ia adalah wanita yang pendiam, teman-teman disekitarnya tidak terlalu memperhatikan emely. Dikala jam istirahat berdering, bukan sebuah kantin yang dia tuju, melainkan sebuah ruang perpustakaan yang sunyi dan tenang terkadang ia sering tertidur dikelas. Keseharian disekolahnya hanya membaca buku-buku dan membuka blog pribadi miliknya, hubungan keluarganya sudah 1 tahun memburuk, hidup bersama seorang ibu dan pembantu dirumahnya seakan menimbulkan rasa bosan dengan kehidupannya. "Emely Face" itulah nama blog pribadinya, sebuah kumpulan cerita kisah nyata dalam kehidupannya, tidak banyak kesenangan didalam blog tersebut, rasa sedih, murung, hilang asa, hingga pengalaman untuk mendekati stres pun pernah dialaminya.

      Tidak semua kesedihannya menemani setiap kehidupannya, rasa senang saat melihat sesosok pangeran matahari yang terang benerang selalu menjadi momen yang tidak ingin ia lewatkan. Mavin, seorang pria periang yang berusaha membuat masalah hidupnya sendiri. Keluarganya amat sangat mencintainya, kemanjaan ayah dan ibunya membuat kisah hidup mavin bertolak belakang dengan kehidupan emely.

      Mavin, lahir dari keluarga sederhana yang sangat harmonis. Besikap baik kepada sebayanya, sikap tolong menolong, bertanggung jawab, periang, namun itu berubah saat ia beranjak kekelas tingkat 11 SMA. Dengan sikap yang seperti itu ia menuai banyak masalah, selalu dihukum oleh guru, bertingkah aneh dan iseng adalah sikap barunya. Walaupun begitu mavin masih punya rasa prihatin dan tanggung jawab kepada semua orang. sikap dingin juga tidak jarang ia keluarkan hanya untuk meladeni para gengster



***Awal Semester 4 (Kelas 2 SMA)***

"Wah, inilah yang aku inginkan. Bersandar dibawah pohon yang menyejukkan ditemani dengan kicauan burung serta angin yang terlihat gembira menyapu-yapu helaian demi helaian rambut ku. Wah senangnya"   gembira, senang, itu memang sikapnya bila menemui kesendirian dengan suasana yang sangat mendukungnya. Setiap jam istirahat ia selalu bersandar pada pohon rindang yang berada ditaman sekolah, bukan hanya taman, perpustakaan pun telah menjadi tempat favoritnya disekolah. Emely pun tidak membuang waktunya, laptop yang dibawanya langsung dibuka dan dinyalakan, secepatnya ia membuka blog pribadinya.
   
         Melakukan hal yang menyenangkan adalah dimana ia menulis serta mengisi blog pribadinya dengan berbagai cerita fiksi yang ia buat, ceritanya yang paling banyak mendapat sorotan adalah cerita dengan tema "you place my love". Cerita itu berisi tentang kehidupannya dengan mengganti beberapa nama dan menambah sedikit cerita fiksi didalamnya. Mengimpikan seseorang pria yang mampu menguatkan hidupnya adalah tujuan dari peran utama sang wanita dalam cerita tersebut. Dengan cerita itu, beberapa penggemar blog emely sangat antusias untuk membaca setiap episode yang dibuat emely. Sunset, sebuah nama yang tidaj asing lagi dalam blog pribadi emely, banyak masukan yang diterimanya, dimana saat sunset memberi semangat, tak tahu kenapa emely menjadi sangat bergairah untuk menulis.

"Wah, sunset komentar dicerita baru yang ku kirim semalam. Kalau dilihat dari waktunya, baru beberapa menit dari jam istirahat tadi. Tidak apa-apalah tak usah difikirkan, yang penting dia selalu menjadi penyemangat diblog ku"   dengan wajah yang berbunga-bunga, ia berkata-kata dalam kesenangannya.

"Hei sebenarnya siapa sih kamu ?"  Balas emely dalam kolom komentar dicerita itu.

     Disela-sela waktu menunggu sebuah balasan komentarnya ia meneruskan adegan ceriranya yang tidak bisa diselesaikannya tadi malam. Terlalu asyik dengan penulisan fiksinya, ia hampir tidak mendengar suara bel masuk yang menandakan pelajaran akan dimulai kembali itu. Disaat itu juga sebuah komentar balasan diterimanya, "sebuah matahari senja yang memberikan warna berbeda". Itulah tulisan yang terlihat jelas oleh kedua bola mata emely.

      Tanpa harus peduli ia akan masuk terlambat atau tidak. Emely memyempatkan diri untuk membalas komentar dari nama misterius itu. Kembalilah emely kedalam kelasnya, suasana yang dirasakan emely didalam kelas sungguh berbanding terbalik dengan suasana saat jam istirahat berlangsung.

"Kriiing...."  nada panjang yang menandakan berakhirnya pelajaran pun berdering. Perubahan sikap semakin terasa saat bel akhir pelajaran berbunyi. Wajah yang menandakan akan terjadinya hal buruk didapatkannya, emely tidak tahu apa yang akan dihadapinya saat kembali kerumah.

      Berujung pada sebuah pengasingan disebuah kamar adalah tujuan sehari-hari emely selepas bel pulang berbunyi. Tidak heran jika saat pulang kerumah ia mendapati ayah dan ibunya yang selalu bentengkar, mereka tidak mau mengambil jalan perceraian, hanya pisah rumahlah jalan terbaik untuk melerai pertengkaran mereka. Emely ingin sekali pergi kesebuah desa yang tenang, tidak ada sekelompok penggangu dikelas, orang tua yang saling menyayangi dan memperhatikan kondisi anaknya itu. Tempat tujuan itulah yang selalu menjadi sebuah latar belakang dari semua cerita fiksi yang tertulis diblog pribadinya.

"Tok...tok... permisi"  suara yang tidak asing ditelinga emely kini muncul tiba-tiba beriringgan dengan ketukan pintu masuk kelasnya emely. Sontak emely menoleh kearah datanhnya suara pintu itu, kagetnya ia saat melihat mavin sudah berdiri didepan pintu masuk.

"Permisi, apa disini ada sebuah sapu ?"   Tanya mavin kepada gadis yang terpaku melihat orang yang mengetuk pintu itu.

"Oh, e... iya silahkan masuk, saya tidak begitu tahu tempat persembunyian sapu itu"   dengan sedikit kikuk, emely mencoba sedikit tenang.

"Kenapa ?"   Pertanyaan singkat keluar dari mulut mavin.

"A...apanya yang kenapa ?"   Pertanyaan kembali dibalikan oleh emely yang tidak tahu alasan mengapa mavin bertanya seperti itu.

"Wajah mu..."   tiba-tiba saja mavin mendekati wajah emely. Wajah emely pun mundur seiring dengan wajah mavib yang terus maju mendekati wajah emely.

"Ke...ke..kenapa de..dengan wajah ku ?" Tanyanya didalam situasi yang mendebarkan bagi emely, karna baru kali ini ia didekati oleh pria yang disukainya sejak masuk sekolah itu.

"Ada sedikit kotoran diselah mata mu dan pancaran matamu buruk. Lain kali kau harus sering tidur lebih awal"   Dengan sikap dinginnya, secara tiba-tiba mavin memberi saran kepada emely untuk tidak tidur terlalu malam.

"Ko...kotoran mata ?"
"Buugghh..."    tinju super melayang kewajah mavin saat emely mendengar kotoran mata yang terdapat diwajahnya.

"Jangan sembarangan bicara ya, memangnya kenapa kalau aku tidur larut malam ? Kalau kau ingin mengambil sapu silahkan cari sendiri, huh"   dengan kesalnya ia pergi meninggalkan mavin yang terlihat mengerang kesakitan oleh pukulan emely.

"Aduuuh... wanita macam apa dia, tanpa sebab yang jelas langsung menghajar ku begitu saja. siapa suruh tidur dikelas, jadinya kan ada kotoran dimata mu. Yang penting sekarang adalah mencari sapu. Sapu dimana kau ? Sapu ?"    Entah sikap apa yang dimiliki mavin, sepertinya sulit untuk ditebak.

Dilain sisi, emely ingin pergi kesuatu tempat untuk menenangkan diri dan melanjutkan fiksinya itu.

"Perpustakaan atau taman dekat sekolah ini ya ? Jika perpustakaan aku bida lebih tenang, tapi waktu yang diperoleh tidak banyak. Jika ku pergi ketaman, suasana cukup tenang dan bisa berlama-lama disana, tapi jika turun hujan habislah diriku. Huhf mana yang harus kupilih ya ?"   Kebimbangan menyelimuti perasaan ememly, tempat tujuan selain rumah adalah tempat beresiko bila ia sedang asyik menulis fiksinya.

"Lebih baik diperpustakaan saja" suara tak asing terdengar tiba-tiba dari belakanh emely.

"Kyaaaa..."
"Plaaak..."   jeritan serta tepukan tangan terhadap objek lain memang sangat serasi bila didengarkan.

"Eh ? Te...ternyata kau vin, ma...maafkan aku ya"

"HEI !! Kenapa kau selalu memukulku dari tadi ? Belum luka ini sembuh, kau sudah membuat noda merah lima jari dipipiku. wanita macam apa sih kau ini ?"  Pengangkatan nada keras oleh mavin telah terjadi, ia kesal oleh wanita itu karna setiap bertemu emely selalu memukul wajahnya.

"Aku kan sudah minta maaf, lagi pula kau kan mengagetkan aku"  dengan wajah penuh penyesalan dan nada bicara seakan ingin menangis, telah dilakukan oleh emely demi mandapat simpati mavin.

"Baiklah-baiklah, kali ini aku maafkan. Jadi kau ingin pergi kemana ? Taman atau perpustakaan ?"  Tanya mavin walau masih kesal terhadap emely.

"Emm... kalau aku keperpustakaan, aku tidak punya banyak waktu, perpustakaannya sebentar lagi akan tutup, bila ku pergi ketaman, aku khawatir nanti akan turun hujan"   berbicara sambil nenundukan kepala. Emely seakan menyesali apa yang dilakukannya kepada mavin.

"Tenang saja, tidak perlu merasa bersalah dan khawatir begitu, jika keperpustakaan aku punya kunci duplikatnya"  wajah yang tersenyum mengiringi kata-kata mavin untuk meyakinkan emely pergi keperpustakaan.

"Lalu bagaimana kalau kita disuruh keluar ?" Tidak lagi berbicara sambil menundukan kepala, kali ini emely lebih percaya diri berbicara dengan mavin.

"Itu mudah, diperpustakaan punya sebuah rak buku pajangan, rak itu bisa digeser dan terdapat sebuah ruangan kecil didalamnya, banyak kumpulan buku bagus disana, akan tetapi buku-buku itu telah usang dan penub dengan debu, jadi saat perpustakaan ini akan ditutup, kita bersembunyi didalamnya. Bagaimana ?"  percakapan serius pun dimulai oleh mavin.

"Apa ada tempat seperti itu ? Kenapa aku tidak tahu tentang rak geser itu ? Dan jika ada bagaimana  kalau penjaga memeriksa tempat itu ?"   seakan tidak percaya dengan perkataan mavin, emely mengeluarkan banyak pertanyaan padanya.

"Sudahlah nanti saja kujelaskan, yang penting kita sampai disana dan menyusun siasat diperpustakaan itu. Dan tempat itu hanya kepala sekolah saja yang tahu"  tetap saja mavin masih memberikan kata-kata dengan ekspresi wajah yang serius pada mavin.

     Mereka tidak sadar bahwa mereka sudah berada didepan perpustakaan itu. Keseriusan mavin dalam berbincang membuat jarak tempuh perpustakaan menjadi lebih dekat. Sebelum menyadari bahwa mavin dan emely sudah sampai diperpustakaan, mavin memutuskan untuk berlari supaya cepat sampai.

"Sebaiknya kita berlari supaya kita cepat sampai sebelum perpustakaannya tutup dan bisa menyusun siasat secepatnya"  usul mavin kepada emely. Sigap emely manahan tangan mavin, suasana tersebut dirasakan sangat romantis bagai film ditelevision. Mereka saling memandang, rambut mereka diterpa angin sejuk yang beraturan, senyuman mereka seolah memberikan tanda satu sama lain. Dan tiba-tiba.

"HOI !!!  Kalian masih sekolah, kenapa berpegangan tangan didepan perpustakaan ini. DILARANG MEMBUAT SUASANA SEPERTI DI FTV !!"  Hentakan nada sang penjaga sekolah seakan mengguncangan tanah disekitarnya. Mereka terkejut oleh kedatangan penjaga sekolah tersebut. Beruntungnya mereka tidak menerima hukuman apa-apa, sialnya lagi pintu perpustakaan sudah terkunci dengan pintu ganda yang baru terpasang tadi siang.

     Setelah kejadian itu, emely memutuskan untuk pulang kerumahnya yang hampa. Kecewa memang, akan tetapi saat sampai dirumah, ia melanjutkan fiksinya dengan perasaan yang sangat gembira, sempat ia heboh sendiri kalau-kalau emely mengingat kejadian tadi sore saat disekolah. Bukan hanya teman diblog pribadinya, ternyata teman yang disukainya sejak masuk sekolah itu memberi respon positif terhadap emely.

     Hari berlalu dan berlalu, tak tahu kenapa, emely merasa sedih dan kehilangan saat mavin tidak menemuinya selama 3 hari berturut-turut. Yang bisa ia sesali hanyalah, "kenapa aku harus berbeda kelas dengan orang periang itu ? Kenapa ?" Begitulah penyesalan yang sangat mengganggu setiap pemikiran emely. Emely hanya bisa terdiam melihat langit-langit kelasnya dan bertanya-tanya.

"Atap yang malang kenapa kau berlubang dan tidak ada yang memperdulikanmu ? Apakah kau harus membuat lubang yang lebih besar lagi supaya kau bisa jelas terlihat bahwa kau terluka dan nampak buruk ? Atap, kenapa aku harus bicara kepada mu ? Kamu kan benda mati, kurasa aku sudah mulai tidak waras lagi"   tanpa emely sadari, suara yang keluar dari mulutnya membuat teman dan guru yang sedang mengajar memperhatikannya hingga puisi yang ia ciptakan selesai dibacanya.

      Tatappan kejam, membuat emely merasa gugup dan takut karnanya.

"Ke...kenapa kalian memperhatikan ku seperti itu ?" Tanya emely dalam kegugupan kepada teman-temannya.

"Emely !! Kalau kau sedang kesurupan, silahkan keluar. Lanjutkan kesurupanmu diluar kelas, mengganggu ketertiban kelas saja"  ujar guru galak yang sedang mengajar dikelas itu, beruntung emely masih dimaafkan oleh guru itu.

"Hei orang gila, kau kenapa ? Kehabisan teman ya..." ledek salah satu wanita dikelasnya itu. Ejekan itu pun dihiraukannya, dengan menundukan kepala ia memberikan tanda bahwa ia menyesal dan bermaksud untuk meminta maaf telah mengganggu pelajaran.

"Sasha, sepertinya dia menghiraukan mu ? beri pelajaran saja nanti selepas pulang sekolah" usul jahat pun mulai menggerayangi pikiran sasha dan kelompok wanitanya.

"Benar juga kau natalie, kita lihat saja pertunjukan yang akan kami berikan pada mu emely"  sasha pun setuju dengan perkataan natalie teman satu perkumpulannya.

"Lihat saja emely (batin sasha) wuahahahahahaha"  sasha pun tertawa dengan nada yang tidak pelan lagi. Sontak perbuatan itu menimbulkan perhatian seluruh orang dikelas. Mata tajam dari para murid dan guru pun tertuju pada sasha yang mengganggu pelajaran.

"Duughh..." sasha pun diusir keluar dengan tendangan sang penguasa kelas itu.

"Kriiing"  bel penanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar berbunyi kembali.

   Sasha, pengganggu kelas itu belum diberi kesempatan masuk oleh gurunya, lebih buruknya ia dipanggil keruang guru untuk dimintai keterangan. Kedua rekannya yaitu natalie dan karin mencegah emely untuk tidak keluar dari kelas apalagi keluar sekolah.

     Tidak diduga, ntah apa yang menyebabkan mavin datang kekelas emely. Ditemuilah sebuah pemandangan yang tidak mengasyikan dikelas tersebut, tidak pikir panjang mavin pun mencoba membantu emely.

"Hei-hei... ada apa ini ? Kenapa kalian ribut sekali ?"  Wajah sinis dan kata-kata yang dikeluarkan, seakan menambah kesan buruk bagi para pengganggu itu.

"Oh ternyata mavin, kudengar kau sedang ada masalah disekolah ini ya, setiap hari selalu mendapat hukuman dari para guru. Padahal kau anak mamih, kenapa kau bertingkah seperti jagoan disekolah ini ?" Ejekan demi ejekan keluar dari mulut pedas kedua pengganggu itu.

"Tak apa itu bukan urusan kaliankan ? Aku kesini hanya ingin memanggil emely keruang guru dan meminjam sebuah sapu. Boleh ?"  Dengan mudahnya mavin menjawab ejekan natalie.

"Jika kalian tidak mau menyerahkan emely kepada guru BP disekolah ini, silahkan saja kurung dia disini. Setidaknya kalian mendapat hukuman yang lebih berat dari pada aku ? Sebelum aku keluar dari kelas ini, bolehkah aku membawa emely keruang guru ?"  Setelah mengambil sapu disudut kelas, mavin memberi sedikit gertakan kepada dua wanita labil itu. Senyuman mavin saat membelakangi natalie dan karin disadari oleh emely dimana wajahnya ingin menangis saat perlakuan dua orang tersebut. Perubahan ekspresi wajah sedih menjadi tersenyum adalah sebuah gambaran yang cocok untuk keadaan saat ini. Pemikiran panjang pun dilakukan oleh natalie dan karin, suatu kejadian yang membuat kedua orang pengganggu itu berhenti berfikir adalah disaat mavin menggandeng begitu saja tangan emely menuju luar kelas dengan santainya.

"Hei tunggu, apa yang kau lakukan ?"  Tanya karin.

"Sudah kubilang kan, aku akan membawa emely keluar dari penyiksaan yang kalian berikan"  jawabnya tegas.

"Klek"  pintu kelas emely tiba-tiba terkunci. Dua orang pengganggu itu berteriak minta tolong dan maaf berkali-kali kepada mavin, tetap dihiraukannya suara parau yang mengganggu telinga itu.

"Hei ? Kenapa kau beralasan aku dipanggil oleh guru ?"  Satu pertanyaan yang membuat heran emely telah diajukannya, lorong sekolah yang sepi membuat suasana romantis kental terasa.

"Kenapa ya... ? Nanti kau juga akan mengetahuinya. Asalkan kau masih bisa tersenyum aku akan lebih tenang lagi, hidupmu itu perlu sebuah hiburan, kau masih sama saat aku dipukul kau waktu itu"  jawab mavin.

"Kenapa tidak sekarang saja ? Jadi sejak dulu kau mengkhawatirkan ku ya ? apanya yang tidak berubah saat aku memukulmu waktu itu ?" Barisan pertanyaan serempak datang kepada mavin. Berjalan dilorong yang sunyi dan sepi, memang waktu yang cocok untuk berbincang-bincang sayu sama lainnya.

"Kau terlalu banyak bertanya, dan sulit mendapat saran dari orang lain ya. Sudah kubilang jangan tidur terlalu larut, tertidur waktu istirahat itu buruk sekali kau tahu ?"  Singkatnya.

"Orang tua ku baik terhadap ku, tapi terkadang aku merasa bosan selalu diperhatikan terus. Jadi aku membuat cerita berbeda disekolah, hidup tanpa masalah memang tidak seru, ya kan ?"  Terusnya.

"Hei mavin, kau rasanya bagaimana masalah datang bertubi-tubi dan kau hanya bisa pasrah karnanya ?" Perbincangan seriuspun ditunjukan oleh emely.

"hhmmm... bagaimana ya, jika kau hanya bisa pasrah lalu kenapa kau masih bisa tersenyum saat keluar dari kelas tadi, bukannya itu sebuah peluang ?" Senyuman saat berbincang memberikan kesan yang berbeda terhadap emely.

"Hiks...hiks...hiks..."  tangisan emely pun mengalir digaris pipinya secara perlahan-lahan.

"Eh ? Kenapa kau menangis ? Wah maaf ya telah membuatmu kesal, ini salah ku"  kebingungan mavin terlihat saat emely tiba-tiba saja menangis. Sikap menggaruk kepala dan tersenyum dengan mata yang terpejam petanda bahwa mavin telah berbuat emely tidak enak hati.

"Daph"  sebuah pelukan yang mengejutkan mavin dibalik tawanya terlihat. Bukan bermaksud ingin menolak pelukannya, akan tetapi pelukan yang diberikan emely terlalu kuat membuat mavin sulit bernafas.

"Tu...tunggu dulu, bisa kau kendurkan sedikit pelukanmu, aku jadi sesak nih. Uhuk...uhuk"  mendengar derita itu emely pun mengendurkan pelukannya yanpa melepas pelukan tersebut. Merasa ingin menenangkan emely, mavin akhirnya berbalas pelukan terhadap emely. Inilah romansa sepasang anak remaja, kehangatan pelukan mereka mengalahkan sunyinya lorong yang dipenuhi hal negatif. Pelukan memang sangat dibutuhkan oleh setiap pasangan untuk menenangkan hati mereka masing-masing. Penguasaan diri terhadap nafsu diperlukan untuk perlakuan ini.

Dibalik itu sebuah bisikan ditelinganya adalah cara menyamankan diri sesamanya.

"Hei, jangan menangis lagi. Kau taukan tangisan bisa mengendurkan kulit wajahmu tau"  dibalik pelukannya itu, mavin berbisik.

"Aku tidak peduli hal semacam itu, ini sebagai tanda terima kasih ku kepada mu, kau tau ? Sebenarnya..."   bisikan mavin pun dibalas emely, namum belum ia menyelesaikan kalimatnya, pria yang dipeluknya itu merasa tak nyaman.

"Tu...tunggu dulu, ada yang sedikit menganjal, apa kau merasakannya ?" Ucap mavin sembari melepas pelukan emely perlahan-lahan.

"A..apa itu ? Jangan-jangan kau ?" Cetus emely dengan wajah sinisnya.

"A..a..bukan apa-apa kok, hanya sebuah sapu yang mengganggu" jawabnya dengan senyuman yang merasa bersalah.

"Ayo berpelukan lagi" singkatnya.

"Plaaak... !!" Diberilah pelukan tangan yang lebih hangat dari sebelumnya, kali ini mendarat dipipi kirinya.

"Aaaa..... kau wanita kejam. Awas kau, tak akan ku bantu lagi kau !!"

     Merasakan ganasnya cap lima jari milik emely membuat rasa kesal terhadap wanita itu kembali mencuat dari dalam dirinya lagi. Emely akhirnya berlari meninggalkan mavin yang menderita kesakitan dibelakangnya. Tidak lupa, emely menghadiahkan sebuah lidah yang menjulur kebawah kepada mavin. Hilanglah emely dari pandangan mavin yang tersungkur dilantai.

"Gadis yang luar biasa" kata-kata penutup mavin untuk hari itu pun terucap, sebelum beranjak berdiri. Sebuah senyuman diwajahnya diibaratkan sebagai hadiah terima kasih atas tamparan dipipinya.


~BersambunG~
Nantikan kelanjutannya sesegera mungkin...
:v

















Senin, 17 Februari 2014

Pembawa Masalah (Part 4)

   >>Analisis VS Analisis<<


Mereka bertiga pun memeriksa dompet dan setiap kantung celana dan baju mereka masing-masing. Tiba-tiba saja sang preman menghentikan pencariannya, dia lupa bahwa ia tidaj memiliki hal semacam itu. Ardiansyah pun menghentikan pencarianya juga, dengan alasan tertinggal dirumah karna ia tidak tahu ingin ada keperluan apa dipanggil oleh anak SMA yang terkesan bodoh itu. Begitu pun dengan abimanyu, dompetnya hilang, dia berkata bahwa ia telah dicopet oleh seseorang.

       Dengan tidak ditemukannya tanda pengenal mereka, membuat para polisi bingung kecuali untuk ardiansyah sang tersangka kedua yang disuruh untuk mengambil tanda pengenalnya dirumahnya sendiri. Tidak beberapa lama ia pun kembali, YOGA ARDIANSYAH, tertulis jelas ditanda pengenalnya, fotonya pun cocok. Tetapi polisi tidak tahu untuk apa tanda pengenal itu. Disaat abdul diperlukan, dia malah tidak berada ditempatnya.
 
        Tidak ingin membuang waktu, abdul pergi membawa tasanya yang tertinggal dikafe dan menyusuri jalan yang dilewati preman dan teman dekat korban, yaitu arah kanan kafe dan gang itu. Penyusurannya dilakukannya demi mendapatkan bukti yang jelas, sebelum tim forensik menyelesaikan otopsinya dan para polisi meninggalkan tempat kejadian itu.

"Ah ketemu, dengan ini kau akan masuk kedalam rumah tahanan. Korban tidak tahu bahwan terdapat nama yang sama didaerah ini. Dengan begitu lenkap sudah analisisku"   gejolak batin yang merasa sungguh amat terasa gembira dikala kau mampu memecahkan misteri dengan tanganmu sendiri.

    Dengan terburu-buru abdul pun berlari menuju tempat kepala polisi itu berada dan menyuruh para tersangka untuk berkumpul.

"Pak kepala aku sudah menemukan sesuatu, aku ingin menyampaikan analisis ku, masalah tanda pengenal nanti saja. apakah boleh ?"   Tanyanya dengan membuat beberapa alasan.

"Pak polisi !! Kenapa bapak percaya begitu saja dengan anak ini, apakah pak polisi tidak curiga dengannya ? Sebelum polisi datang saja aku melihat bocah itu bermain-main dengan mayat teman dekatku itu"   celetu seseorang secara panjang lebar dengan nada yang sedikit mengangkat.

"Eh ? Kau berada disana ya ? Kenapa aku tidak melihat mu. Seharusnya pakaian mu mencolok kan bila datang dengan batik semacam itu. Atau kau sedang meyakinkan sesuatu ditempat terbunuhnya teman dekatmu ? Apa benar begitu yoga ?"   Sebuab analisis kecil dikeluarkan abdul sebagai awalan dalam menangkap sang pelaku.

"Apa benar itu ? Dan namamu yoga juga ya. Dari mana kau tahu nak ?" Tanya kepala polisi itu.

"Tunggu. Aku hanya berkeliling dengan baju yang berbeda saja, awalnya aku mengajak budi makan dikafe itu dan setelahnya aku ingin pergi bersamanya, aku malu jika harus pergi keauatu tempat dengan baju semacam orang jawa seperti itu. Jadi aku memutuskan untuk ganti baju dan budi kusuruh menunggu digang itu"  jawabnya dengan wajah yang penuh keyakinan dan sedikit memelaskan wajahnya itu.

"Aku tahu namamu dari sebuah darah yang berbentuk segitiga itu. Dan tiket akuarium bawah tanah itu menunjukan bahwa seseorang harus pergi kesuatu tempat"

"Kita urutkan saja kasus ini. Mulai dari sang preman, kau dalam keadaan mabuk kan, tentu kau pergi kegang itu bermaksud untuk membuang air kecil karna kau tidak menemukan toilet dimana-mana. Benarkan ?"   Lanjutnya menyusun rangkaian puzzle masalah yang didapatnya.

"Iya..." jawab sang preman dengan santainya.

"Bekas dari buangan dia masih terasa saat kerumunan orang mulai mengelilinginya. Selanjutnya adalah yoga ardiansyah. Kau sebenarnya tahu bahwa korban berada disana, sebenarnya pernyataanmu berbohong. Setiap orang yang melakukan perbincangan dirumahnya sendiri, pasti akan selalu menyuguhkan sesuatu pada tamu itu. Kau tidak benar-benar membencinya, kalau kau memang membencinya, kemungkinan kau tidak ingin membukakan pintu untuknya. Sebab itulah kau berbohong dengan pengakuan seperti itu. Yang sebemarnya adalah..."  belum abdul menyelesaikan analisisnya tiba-tiba saja ardiansyah terduduk dengan lututnya serta mengakui yang sebenarnya.

"Aku menemukan budi sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Aku melihat banyak darah disekitar tubuh korban, dan ada sedikit masalah yang membuatku terkejut. Terdapat nama yoga disamping kepalanya, jadi aku hapus saja darah itu secepatnya dengan tiner. Belum aku selesai, tiba-tiba saja kurnia datang dalam keadaan mabuk. Setelah itu selesai, aku bermaksud menaruh tiner yang kubawa kedalam rumah, tanpa sengaja aku berpapasan oleh seseorang yang misterius menuju kearah budi. Secepatnya aku taruh tiner itu, dan langsung berlari kegang itu sambil mengarakan bahwa ada mayat digang itu. Aku takut bahwa pesan itu adalah diriku, karna tempatku yang cukup dekat dengan gang itu"   dalam keadaan menangis, ardiansyah meyampaikan kejujurannya. Analisis belum selesai abdul mendapatkan petunjuk baru untuk menuntut korban.

"Sudahlah, sebaiknya kau mengikhlaskannya saja. Dan menghukum pelakunya. Hanya kau, YOGA ABIMANYU yang bisa melakukan ini dengan jangka waktu yang cepat"   penuduhan pun dimulainya. Keadaan seperti dikejutkan sesuatu.

"Huh, apa kau punya bukti dan kenapa aku harus membunuh teman dekat ku sendiri ?"  Dijawablah penuduhan itu dengan wajah yang meremehkan.

"Dompet dan gagang pisau yang ku temukan. Kau memisahkan barang bukti mata pisau dari gagangya supaya bukti yang ditemukan tidak terlalu kuat. Nama yang ditulis korban adalah untuk kau. Korban mengetahui ciri khas pada tubuhmu, sehingga dia bisa tahu siapa yang membunuhnya. Jalan yang sedikit pincang, itulah cirinya"   dilanjutlah analisis yang dirangkai sedemikian rupa oleh abdul.

"Jalan pincang ? Ya benar, orang yang memakai topi, shal, kaca mata hitam, jaket bisbol, sarung tangan, dan sepatu boot. Dia berjalan pincang saat kami bertemu secara tidak sengaja"   dukungan didapatkan abdul. Membuat analisisnya semakin yakin untuk kasus ini.

"Kau yoga abimanyu, pasti paham betul tentang jalan ini kan, kau menyamar menjadi seseorang yang tidak dikenali, dan membunuh korban dari belakang dengan menusuk bagian depan korban tepat didadanya. Kau berlari melewati jalan yang sama dan berganti baju. Memisahkan mata pisau dan gagangnya adalah salah satu rencanamu. Jika tebakanku benar kau masih membawa mata pisau yang kau gunakan untuk membunuh jika darahnya sudah dihapus maka akan timbul kembali karna aksi luminol pada darah"  dengan senyumannya, seakan menandakan berakhirnya analisis seorang remaja pria dengan kecerdikannya.

     Yoga Abimanyu. Ditetapkan sebagai pelaku oleh abdul aziz. Namun tidak tahu kenapa perasaan bahaya masih mangancam.

"Tok..tok..tok...  kreeek..."  suara ketukan pintu menghentikan sebuah langkah polisi yang ingin menangkap abimanyu. Seiringan dengan ketukan pintu itu mulut pintu pun semakin terbuka lebar.

"Apa kau tidak tahu sebuah kode yang diberikan seseorang padamu ya. Abdul Aziz"  suars seorang wanita muncul dari balik pintu yang terlihat semakin lama semakin lebar membuka sampai sesosok tubuh molek seorang wanita remaja yang berdiri didepan pintu itu menampakkan dirinya. Sontak abdul yang mendengar dan melihat itu terkejut.

"Eh ? Kenapa kau ada disini ?"  Dengan terkejut abdul menanyakan alasan kenapa ia disini.

"analisismu sedikit melenceng, karna itulah kau melebih-lebihkan analisismu. Makannya kau harus memeriksa isi tasmu terlebih dahulu"
"Tap"  suara pintu tertutup seakan mengakhiri pernyataan rina pada aziz.

"Apa kau menelusuri kasus ini lebih dalam ? Dan kenapa kau sudah berganti baju saja ? Siapa kau sebenarnya ?"   rentetan pertannyaan dilepaskan oleh abdul kepada rina.

"Dia adalah seorang detektif wanita, Rina Agustine. Dia diberi julukan oleh para polisi yanv dibantunya dengan sebutan "Wanita Penghakim""  nada serius diciptakan oleh kepala polidi yabg mengenal rina cukup lama.

"De...detektif"   ketiga tersangka tersangka begitu terkejut dengan kedatangan seorang detektif wanita,  begitu pun dengan abdul aziz yang sangat terkejut mendengar hal itu. Suara mereka menyatu saat mendengar bahwa rina adalah seorang detektif berpengalaman.

"Bagaimana bisa ? Jadi selama ini yang aku ikuti itu adalah seorang detektif wanita ?"  Kata-kata yang tidak percaya akan kesaksiannya itu terlontar begitu saja dari mulut abdul.

"Sudahlah...sudahlah... kau membuat heboh panggung ini pak kepala. Bagaimana kita lakukan ini diluar saja ?"  Katanya mencoba menenangkan suasana.

   Rina pun mengajak semua orang yang berada di ruangan itu untuk pergi ketempat kejadian pembunuhan terjadi. Disanalah awal analisis seorang detektif wanita dimulai.

"Baiklah, korban dibunuh ditempat ini. Korban dibunuh dengan pisau kecil, lalu dada korban disobek oleh pisau itu, akhirnya korban tewas kehabisan darah. Ada bekas darah yang berbentuk segitiga kecil dan tiket akuarium bawah tanah yang terdapat darah korban. Saya menemukan sebuah tanda pengenal dengan nama Yoga Abimanyu, anehnya, foto dalam tanda pengenal itu tidak diberikan. Jelas dia bukan pelakunya. Salah satu pekalunya adalah pengguna pisau dari kafe didekat gang ini. Kurasa mereka bertiga memiliki pisau itu, bisakah lalian keluarkan ?"  Analisis awal seorang detektif wanita telah dimulai. Abdul yang memperhatikan rina dengan seksama tampak kagum dengannya bisa menemukan beberapa barang bukti yang cukup banyak.

"maaf detektif, saya tidak membawa hal semacam itu"  jawab tersangka yang bernama yoga ardiansyah itu.

"Memang itu yang kuhapkan"  celetuk rina.

"Eh ? Apa maksudmu ? Lihatlah, punya teman dekat korban, hanya mata pisaunya saja yang dimilikinya. Jika mata pisau itu diperiksa maka akan keluat aksi luminol dari darah korban. bagaimana kau mengharapkan ardiansyah tidak membawanya ?"  Berbagai pertanyaan keluar dari mulut abdul dengan sikap yang sedikit bingung dengan itu.

"Sudahlah kau tenang dulu. Teman dekat korban, tanda pengenal ini punyanya kan, aku menemukannya dikantung celana dalam korban"  Jawab rina menenangkan abdul yang tampak tidak terima akan hal yang disampaikan detektif wanita itu.

"Pelaku sengaja membuat polisi bingung dengan kesaksiannya dan cara pembunuhannya, pisau dari kafe itu memiliki tanda khusus dimata pisaunya dan gagangnya. Digagang pisau itu terdapat sebuah nama COAL, dan dimata pisaunya terdapst sebuah tulisan MINERAL. Kafe itu dahulunya adalah sebuah tempat yang menyediakan air bagi yang kehausan ditempat itu. Semua minuman dan beberapa menu lainnya dibuat dengan sistem batu bara. Semua warga disini tau bahwa kafe itu sangat terkenal dulunya. Pelaku sengaja membuat pembunuhan dengan pisau yang hampir sama bentuk dan bahan pembuatannya untuk membunuh. Jika diteliti lebih dalam ada sedikit perbedaan didalamnya. Pisau MINERAL COAL memiliki ciri khusus yaitu didalam gagangnya terdapat sebuah tulisan sebagai motivasi pengunjung ditempat itu. Kurasa abimanyu tahu akan hal ini. Benarkan ??".

    Dengan sedikit informasi, rina bermain-main kata sesuka hatinya. Tekanan demi tekanan diberikan oleh rina sebagai kode, apakah sang pelaku mau menyerahkan diri dihadapannya atau tidak. Abdul yang saat itu terus terfokus oleh analisis rina masih tidak percaya dia tahu sebanyak itu tentang kafe yang baru dikunjunginya. Sebuah pertanyaan mengakhiri analisis awalnya. Sang kepala polisi hanya bisa terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut rina disetiap detiknya. Tidak ada kata ampun bagi penjahat, walaupun hal pribadi dan hal sepele apapun. Penegakan hukum harus dikobarkan dengan adanya keadilan sosial dinegara indonesia ini.



Oke, sampai disini bersambung dulu ya...
See you next part...
^_^









Sabtu, 15 Februari 2014

Pembawa Masalah (Part 3)

>>Firasat Yang Nyata<<

    Dalam cerita sebelumnya abdul aziz mendapatkan firasat buruk terhadap rina. Dengan alasan itulah mereka dapat berjalan bersama dan niat abdul yang awalnya menguntit kini bisa lebih leluasa untuk mengetahui siapa gadis itu. Gadis yang cukup pintar, menawan, namun abdul mengecapnya sebagai gadis yang sombong dan banyak gaya setelah kejadian didepan pintu gerbang sekolah itu. Aneh memang, dimana saat kau tidak tahu ada orang selain kamu yang kepintarannya bisa menyaingi mu. Mungkin dikarenakan oleh abdul tidak naik kelas satu tahun lalu. Dalam bergaul abdul memang tidak begitu banyak meluangkan waktu untuk teman-temannya, ia lebih baik berdiam dibawah pohon yang rindang ditemani dengan suara burung-burung dan angin sejuk disiang hari dengan membaca sebuah buku atau komik yang selalu dibawanya. Tidak jarang abdul menerima hukuman karna kebiasaannya dalam membawa-bawa bacaan yang tidak ada hubungannya dalam pelajaran disekolahnya itu, walaupun begitu dia sanggup menjawab apa yang ditanyakan oleh guru pengajarnya. Sontak sikap itu membuat murid lain cemburu atas kelakuannya.

"hei, kenapa kau menatapku seperti itu ?"  rina pun mengawali pembicaraan dengan mengejutkan abdul.
"eh ? e...tidak. Kau baru saja naik dari kelas 2 ya, kau tau aku seberapa jauh ?"  tanyanya dengan wajah yang penuh akan kepenasarannya.

"itu tidak terlalu penting. Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa kau bisa tidak naik kelas, padahal kau bisa menjawab pertanyaan bu fitri dengan lancarnya ?"  cetusnya, menjawab pertanyaan abdul sebelumnya.

"huh, tidak penting apanya, jelas-jelas kau tadi dikelas terkejut begitu"  batinnya.
"itu tidak penting. aku hanya tidak diperbolehkan lulus lebih cepat saja oleh para guru yang ada disekolahan itu"  karna kecewa, abdul pun membalas pertanyaan rina dengan wajah yang cuek namun dipaksakan olehnya.

"jawaban macam apa itu"  kata rina kesal.
"biarkan weeee"  tidak ingin kalah abdul membalas dengan menjulurkan lidahnya dihadapan rina.

      Suasana semakin mendukung keasyikan mereka dari waktu ke waktu, perjalanan yang jauh seakan tidak terasa bagi sepasang remaja cerdik macam mereka. Mulai dari ledekan sampai sindir-menyindir dengan rayuan gombal antar keduanya menambah keakraban mereka berdua.

     Akibat perjalanan yang cukup jauh mereka akhirnya merasakan kelaparan, kebetulan sekali didepan mereka terdapat sebuah cafe, tidak pikir panjang mereka berdua langsung masuk kedalamnya.

    Tidak lama mereka berbincang-bincang didalm cafe tersebut, kejadian yang aneh sempat terjadi. Para warga sekitar yang melintas didepan cafe itu terlihat buru-buru dalam melangkahkan setiap kakinya. Melihat kejanggalan tersebut, abdul langsung meminta pamit kepada rina dan meninggalkannya.

"Hei tunggu, semua ini siapa yang akan membayarnya ?"  Celetuk rina seakan tidak terima dengan perlakuan abdul yang semena-mena.

"Selain aku siapa lagi yang makan dan minum disitu ? Kalau bukan aku yang bayar kenapa kau tidak membayarnya saja dulu. Benarkan ?"   Ulasnya dengan nada yang sedikit sombong dengan senyuman manis diwajahnya itu.

      Tanpa ingin membuang waktu lagi abdul pun langsung keluar dari kafe itu dan menghampiri kerumunan orang yang ada siatu gang tidak jauh dari cafe itu.
   
       Perjuangan untuk melewati kerumunan orang tidaklah sia-sia, sampailah ia ditempat yang menjadi pusat perhatiab para warga sekitar. Terkejutnya ia saat sesosok mayat terbaring dihadapannya. Setelah bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada para saksi, abdul akhirnya tahu bahwa mayat itu adalah korban pembunuhan seseorang.

        Lama ia melihat dan memeriksa mayat tersebut, ternyata mayat itu persis dengan apa yang diceritakan oleh guru IPA sebagai kuis tadi pagi itu.

"Hei, apa kau tahu pelakunya tadi ?"
"Tidak, aku hanya melihat dari belakang saja, dia tidak seperti preman jalanan, dan mereka berdua terlihat akrab. Entah mengapa saat mereka keluar dari kafe, mereka sempat cek-cok yang cukup serius, mereka masuk kedalam gang itu dan tak tahu mengapa teman simayat keluar dengan wajah yang ketakutan walau ia masih bisa berjalan santai."   Perbinncangan kedua warga itu membuat abdul aziz memberikan sebuah petunjuk yang bagus.

"Terlihat dari bekas tusukannya, korban ditusuk dengan sebuah pisau kecil, ia mencuri pisau itu dicafe yang ku kunjungi itu, ah coba wanita yang meyebalkan itu bersamaku, akan kusuruh ia menanyakan hal ini pada pelayan restoran itu."  Analisis batin abdul bergejolak.

"Ternyata kau disini. Apa yang kau la..ku...kan"
"Kyyaaaaa... mayat, ke..ke..kenapa ada mayat digang ini?"   Histerislah sang wanita itu saat melihat sesosok mayat dihadapannya itu.

"Bisakah kau diam sebentar, disini ada orang yang sudah meninggal, kau tidak menghormatinya tau."    Balasnya dengan nada yang sediki menyindit

"Maaf nak, apa kalian tidak bisa menyingkir sebentar, disini bukan tempat bermain seumuran kalian"   celetuk seseorang melerai pertengkaran mereja berdua.

"Eh ?? Tidak apa, kami cukup berpengalaman dengan hal ini, dan tadi aku mendengar ada yang melihat pelaku pembunuhan ini, bisakah bapak-bapak sekalian mengangkat tangan jika menjadi saksi kejadian ini ?"   Ulasnya dengan sebuah pertanyaan kepada kerumunan warga disekeliling korban.

      Dengan pertanyaan itu ditemukanlah beberapa saksi yang dapat diandalkan untuk memberikan sedikit petunjuk sebelum polisi datang ketempat kejadian.

"Baiklah, aku akan menanyakan beberapa pertanyaan kepada para saksi dan diharapkan kepada para warga untuk tidak mendekat pada korban dan kau rina, temui pelayan kafe, minta keterangan apa ada yang mencuri sebuah pisau kecil"  jelas abdul memberikan instruksi.

     Dalam introgasi didapatkan beberapa keterangan tentang para tersangka. Yang pertama adalah teman dekat korban dia datang bersama korban menuju gang tersebut walau pun sebelumnya sempat cek-cok dengan korban sebelum menuju gang itu, dan tak lama temannya keluar dari gang tersebut dan korban tidak bersamanya. Yang kedua, diduga warga sekitar wilayah itu dia masuk kegang tersebut dengan terburu-buru. Tidak lama setelahnya, seorang preman masuk gang tersebut, tidak jelas apa yang ia lakukan, hanya sekejap ia masuk kegang tersebut dan keluar dengan wajah seakan melepas rasa kelegaan. Disamping itu tersangka yang kedua belum juga keluar, setelah beberapaenit kemudian berlalu, tiba-tiba saja orang tersebut belari ketakutan dan memanggil para warga dengan kalimat "tolong ada orang tewas digang itu !!".

       Polisi pun datang ketempat kejadian setelah 30 menit berlalu. Tim  insvestigasi segera memeriksa korban, ditemukan beberapa kejanggalan dalam pembunuhan itu. Sebuah tiket untuk masuk wahana akuarium bawah air dipegang korban walau hampir terjatuh, anehnya hajya ada sedikit bekas darah yang ada ditiket tersebut. Kejanggalan lain ditemukan oleh tim investigasi, yaitu sebuah tanda darah yang membentuk sebuah segitiga kecil yang hampir tidak terlihat oleh mata saat orang melihatnya dari kejauhan. Evakuasu korban pun diselesaikan, para saksi diperiksa dan abdul pun tidak mau ketingalan oleh hal itu. Abdul mencammpuri hal tersebut yang bermaksud untuk memberi tahu bahwa para tersangaka sudah ditemukan.

"Pak polisi, tidak usah mengintrogasi mereka. Para tersangka sudah berhasil dikumpulkan"   kata abdul dengan nada yang sedikit mengeras. Mendengar kegaduhan itu polisi pun menghampiri anak nakal itu.

"Sekolah dimana kau nak ? Apa kau tidak diajarkan sopan santun. Jangan bicara seolah aku ini temanmu ya. Bagaimana kau bisa mengumpulkan para tersangka ?"   Walau sedikit emosi, polisi itu merasakan sedikit terima kasih pada anak itu.

"Yang pertama adalah teman baik korban, menurut saksi dia pergi bersama korban menuju gang itu dan keluar hanya sendiri, pakaian yang mereka kenakan awalnya hampir sama dengan batik daan celana mengatung. Kedua adalah teman semasa korban SMA, saksi tidak tahu tentang tersangka yang kedua ini, saksi hanya melihat dia masuk dan tak kembali setelah tersanga ketiga masuk kegang itu dan keluar, barulah teman SMA korban keluar dengan wajah pucat dan berlari sambil mengatakan "ada mayat digang itu". Lalu yang ketiga adalah seorang preman jalanan yang sedang mabuk, tidak jelas kesaksian dari dia, semoga para polisi bisa mengembangkan kasus ini. Sekian dari saya"    penjelasan yang panjang lebar membuat sedikit polisi itu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh anak yang dianggapnya nakal itu.

        Introgasi para tersangka pun dilakukan, para polisi menerapkan ilustrasi TKP setelah interogasi selesai. Lagi-lagi abdul membuat ulah dengan masuk keruang introgasi untuk mendengarkan percakapan mereka. Memaksa masuk adalah hal yang buruk, apa lagi menerobos penjagaan polisi. Dengan sengaja membuat keributan diluar, akhirnya abdul pun diperbolehkan masuk oleh kepala devisi polisi itu. Penyampaian petunjuk kepada para polisi pun diberikan kembali oleh anak nakal itu.

"Pak polisi, ada yang saya lupakan. Tentang korban, tiket akuarium bawah tanah yang dipegangnya adalah pesan kematian yang dibuat oleh pelaku pembunuhan"   Jelasnya dengan yakin.

"Dari mana kau tahu ? Dan tolong biarkan kami yang menyelesaikan kasus ini. Kau masih terlalu dini untuk menjadi polisi dan jangan seenaknya memeriksa keadaan mayat tanpa adanya polisi yang memberikan perintah padamu"   balas sang kepala polisi itu.

"Dengan ini aku jadi terlibat dalam kasus ini kan, aku punya beberapa keterangan yang sama dengan para tersangka, pertama adalah kafe, saya dan teman wanita saya pergi kekafe yang ada didekat gang itu, hubungan kafe dan kasus ini adalah hilangnya sebuah pisau yang digunakan oleh pelaku untuk membunuh, pisau itu ternyata berasal dari kafe itu. Bagaimana pak polisi ?"   Pernyataan abdul pun ditanggapi positif oleh kepala polisi tersebut. Tidak lama para tersangka mulai khawatir.

"Pak polisi cepat selesaikan masalah ini !! Saya memang seorang preman, tapi membunuh bukab gaya kami, saya tidak berasalah"   celetuk seorang preman didalam ruangan introgasi membuat awal permasalah antara polisi dan para tersangka.

"Saya memang teman korban sejak SMA, dia orangnya baik dan ramah. Kami hanya bebincang dengannya dirumah ku dibalik gang itu, sepertinya dia punya banyak masalah. Saya memang tidak suka padanya sejak diSMA dulu, tapi entah mengapa dia merubah sikap ku padanya dengan sangat singkat. Kami baru selesai berbincang setelah jam 2 siang"   jelas salah satu tersangka.

"Tolong sebutkan nama kalian satu perasatu"    tegas sang polisi.

"Pak polisi apa sebaiknya memberikan KTP saja supaya tidak terjadi kebohongan"  ide bagus terlontar dari mulut abdul.

"baiklah Kartu Tanda Penduduk atau KTP kalian harap dikumpulkan"  tegas sang polisi.

       Entah angin apa yang membuat kasus ini cepat berlalu. Para tersangka sudah memberika kesaksiannya, kecuali teman dekat korban.

       Korban bernama budi santoso, berumur 37 tahun, dia adalah seorang pendatang dari desa kekota. Dia ditemani oleh teman dekatnya yang bernama yoga abimanyu. Setelahnya korban menemui teman semasa SMA bernama yoga ardiansyah. Yang mengejutkan adalah nama mereka bertiga mempunyai awalan yang sama, dan mama preman itu adalah yoga kurniawan.



Akankah Kartu Tanda Penduduk itu dapat dokumpulkan sebagaimana mestinya ??
Tunggu kasaksiannya di episode ke EMPAT...
Terima kasih....


~BersambunG~
     

Sabtu, 08 Februari 2014

Pembawa Masalah (Part 2)

>>Hukuman Yang Terselesaikan<<

    Cerita sebelumnya mengisahkan tentang seorang remaja yang  selalu terkena hukuman karna sering datang terlambat. Namun kali ini sang satpam yang selalu memberikan sanksi yang selalu sama kini merubahnya dengan permintaan sesosok gadis remaja pintar yang disegani disekolahnya. Abdul, itulah nama seorang remaja laki-laki yang sedang terjebak disebuah kelas horor. Perlakuan kejam, aura dingin, tatapan tajam para siswa atau siswi yang ada didalam kelas itu seakan mengisyaratkan abdul untuk tidak mengunjungi tempat itu lagi. Karna bersikap menggangu pelajaran dimata guru IPA nan garang itu, abdul dihukum untuk mengasah kemampuannya dalam 5 pertanyaan melawan kurang lebih 40 orang dalam kelas itu. Pertanyaam pertama sudah dilontarkan guru IPA itu, dan itu telah dijawab oleh gadis yang abdul temui saat didepan gerbang sekolahnya itu. Hanya sisa 4 pertanyaan lagi, harap-harap cemas sudah berada disisi abdul saat itu, ia hanya diberikan 3 kesempatan dalam menjawab, kurang dari 3 soal ia menjawab, maka abdul harus menerima hukuman lain dari pak satpam itu. Siapa yang mau bila disuruh menggantikan tukang sampah maupun pengurus sekolah untuk membersihkan semua sampah dan kelas disekolah itu, buruknya dia hanya sendirian saja. Sebelum pertanyaan kedua dilontarkan oleh guru IPA itu, abdul mengajukan tantangan kepada guru itu.

"bu, bagaimana kalau pertanyaannya yang lebih sulit sedikit. itu hanya hal formal yang terlupakan oleh murid-murid disini, sebenarnya mereka tau jawabannya hanya saja mereka mengalami pikun diusia muda"  dengan jelasnya abdul aziz menantang sekaligus meledek murid-murid yang berada dikelas itu.

"huh. kau menantang ya, baiklah"

Sang guru pun memulai kuis yntyk abdul dan seluruh murid dikelasnya.

"stronomi adalah ilmu yang rumit. bila kita tidak bisa peka dan serius dalam penelitian astronomi maka kalian akan mengalami kerusakan yang fatal, berbeda beberapa inchi dari pernyataan yang sebenarnya saja sudah bisa membuat celaka bumi kita. Untuk bisa menjelajahi alam semesta ini dengan mudah kita harus membuat kendaraan yang berkecepatan cahaya, dengan itulah, apapun yang berada jauh permilyaran kilo meter dari muka bumi ini mampu dicapai dengan secepat kilat. dan pertanyaan ibu kepada kalian dan anak sombong yang berada didepan ini adalah. berapa jarak kolimeter dalam laju 1 kecepatan cahaya ?"   penjelasan demi penjelasan dikatakannya, dengan berjalan bagai setrikaan. ia akhirnya memberikan pertanyaan yang tidak terlalu sulit. murid-murid yang mendengar itu sontak membuat handphone mereka keluar dari persembunyiannya. tidak dengan abdul dan rina, ia terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu.

"biarkan saya yang menjawab pertanyaannya bu guru, 1 laju cahaya itu sama dengan 1.079.252.848,80 kilometer per jam bila dijadikan menit adalah 17.987.547,48 kilometer dan akan lebih cepat lagi bila kita menjadikannya dengan detik dengan kecepatan 299.792,46 kilometer."  jawab seseorang dengan lengkapnya. membuat semua murid tercengang karna para murid yang sudah mencari pun masih belum bisa menghafalnya begitu cepat.

"huh. bagus nak, tidak salah kau selalu menjadi murid yang cerdik. tapi tetap saja kau ini SOMBONG, DASAR BOCAH YANG TIDAK TAU ATURAN, KENAPA SELALU DATANG TERLAMBAT HAH !!!"  teriakan yang luar biasa sampai-sampai tukang bersih-bersih sekolah yang lewat berhenti sejenak hanya untuk menutup telinganya karna teriakan guru IPA itu. Sungguh luar biasa, bulu kuduk samapai bulu ketiak pun menjadi merinding oleh teriakan itu.

   Beberapa pertanyaan sudah diberikan oleh guru itu, skor yang diperoleh abdul adalah 2 dan murid lain yaitu rina juga mendapatkan point 2. Hanya perlu satu point saja supaya abdul dapat terbebas dari kurungan yang membuat darahnya bergejolak. Sampailah mereka dipertanyaan terakhir dari guru IPA itu, semua murid berusaha konsentrasi dengan wajah yang meyebalkan seakan tatapan mereka seperti harimau yang ingin memangsa targetnya.

"oke sampailah kita dipertanyaan terakhir. Ibu akan memberikan kalian pertanyaan cerita, dengarkan baik-baik dan konsentrasi, karna cerita ini akan sedikit panjang..."

"guru macam apa dia, awalnya bersikap galak, tapi kenapa sekarang dia terlalu terbawa suasana. Ditambah lagi wanita itu, kenapa hanya dia saja yang bisa menjawab pertanyaan dari guru itu, saya curiga dia yang merencanakan ini semua."  dengan wajah curiga dan sedikit kesal batin abdul terus berkata-kata serta mengeluh dengan apa yang dialaminya saat ini.

"ini ceritanya, ada seorang pemuda dari suatu daerah pergi kejakarta, malangnya pemuda itu tidak tahu harus bagaimana dijakarta. Sekian lama dia mencari tempat tinggal dan pekerjaan dengan sisa uangnya serta ijazah yang dibawanya. Tidak lama dia bertahan dijakarta, ada suatu kejadian yang mengenaskan oleh pemuda itu, dia ditemukan tewas disuatu tempat yang tidak diketahui tempat macam apa yang menjadi kuburan sementaranya itu. Anehnya ditemukan sesuatu yang mencurigakan didalam tasnya, sebuah tusukan sate dan sebuah tiket akuarium bawah tanah yang tertusuk oleh tusukan sate itu. Nah, menurut kalian dari mana asal pemuda itu ?"
  sekian lama guru IPA itu bercerita, tidak disadarinya bahwa para muridnya tertangkap basah sedang tercengang oleh cerita guru itu, mulut mereka membuka lebar, mata mereka mencuat seperti ingin keluar, suasana penggarukan kepala pun serempak dilakukan oleh murid-murid dikelas itu, baik laki-laki maupun perempuan.

"hhhmmm.... ceritanya memang tidak begitu jelas mengarah kemana, tetapi satu-satunya petunjuk adalah tusuk sate dan tiket akuarium bawah tanah itu, kenapa dia meninggalkan tusuk sate didalam tasnya ya, sepertinya ini perlu waktu yang cukup lama"  batin abdul berusaha menganalisis cerita yang diberikan gurunya itu.

"gawat. aku tidak tahu apa maksudnya, cerita yang diumumkannya itu tidak begitu jelas mengarah kemana. Aku tidak akan memberikan laki-laki sombong itu menang kali ini"   bukan hanya abdul saja yang batinnya bergejolak memikirkan kuis yang diberikan bu fitri itu. Rina pun kali ini tampak bingung dengan cerita milik guru IPA tersebut.

   Waktu demi waktu sudah berlalu, jam pelajaran pun sudah hampir habis. Bahayanya adalah bila abdul tidak bisa menyelesaikan ini dia tidak bisa mendapatkan tanda tangan seluruh siswa dikelas itu, ditambah lagi selepas pulang sekolah dia harus membersihkan seluruh sekolah bila gagal dalam tantang yang diberikan penjaga sekolah itu. Sedikit petunjuk sudah ada digenggaman abdul saat ini, namun para murid masih berfikir keras untuk memecahkan cerita yang terlihat sederhana tetapi membuat otak mereka berkerja lebih dari yang biasanya. Seraya dengan pecahnya hening kelas, suara seseorang menyeruat mengagetkan para muris dikelas itu.

"saya bu, jawaban yang sederhana namun berefek sangat panjang bagi siswa yang ada disini, ibu adalah guru yang hebat. Jawabannya adalah PERBATASAN"

  Menyusul suara yang hilang itu fitri sang guru pun terkejut dan memberikan kata-kata pada orang tersebut.

"bagus, apa alasanmu menjawab perbatasan dan dimana perbatasan itu berada ?"

"cukup mudah, jika pemuda itu dari daerah maka dia tidak akan mau mencoba makanan yang terlalu mewah. Alasan mengapa tusuk sate itu berada didalam tasnya dan ditusukan oleh tiket akuarium bawah tanah adalah dia sedang sedih mengingat tempat tinggalnya, pemuda itu memiliki potensi yang cukup pintar jadi dia membuat seperti itu. Tusuk sate sebenarnya mewakili wilayah bandung dan tiket itu mewakili surabaya. Gedung sate dan Monumen patung Suro dan Baya. Pemuda itu berasal dari perbatasan antara orang sunda dan orang jawa. Benarkan bu FITRI"   penjelasan yang cukup serius oleh abdul dengan wajah senyum sombongnya itu membuat guru itu cukup puas dan kaget atas apa yang dia saksikan.

   Selesainya abdul untuk urusan tanda tangan dikelas itu pun dibarengi oleh bunyinya bell sekolah yang menandakan waktu istirahat telah tiba. Hanya sisa satu tugas saja untuknya, memberikan lembar tanda tangannya kepada penjaga sekolah itu. Setelah hukuman selesai ia baru bisa masuk kelas selepas jam istirahat selesai. Lagi-lagi dia mendapatkan suara seperti mendengarkan konser secara bertubi-tubi, beruntungnya ia hanya mendapatkan itu sejenak saja.

   Pelajaran pun berakhir, sekolah membubarkan aktivitas dan kegiatan belajar mengajar. Tidak diduganya, ia bertemu kembali dengan rina, tidak mau menemui keributan, ia memutuskan untuk bersembunyi terlebih dahulu. Langkah demi langkah dibuat rina menjauh dari sekolah itu, dan tanpa disadari olehnya abdul yang sudah dari awal mengikuti jejak rina, keingin tahuannya untuk mengungkap siapa dia sangat kuat.

"sejauh ini aku mengikutinya, kenapa ia tidak menggunakan kendaraan untuk sampai kerumahnya. Atau jangan-jangan dia melakukannya dengan sengaja"   dengan bergaya seperti ninja diacara televisi ia menguntit rina entah sampai mana itu akan berakhir.

"sudah lah, kau tidak perlu mengikuti ku seperti itu, lebih baik kau berjalan bersama dengan ku kan"  tanpa disadari, ternyata rina sudah mengetahui tingkahnya. Dengan sangat terkejut, abdul menunjukan dirinya dengan cara menjatuhkan dirinya oleh kesadaran rina akan persembunyiannnya.

"e... dari ma...na kau tau aku telah mengikutimu ? kau punya indra keenam ya ?"  dengan wajah kesal, abdul melontarkan beberapa pertanyaan pada rina.

"bagaimana ya, kau perlu tau seorang wanita lebih sensitif dan perasa untuk melindungi dirinya sendiri dari orang-orang seperti mu. Lalu apa urusanmu padaku ?"   ucap rina dengan senyum manis yang membekukan wajah abdul dengan pose yang kurang enak untuk dipandang.

"a...anu..e... itu... aku hanya ingin tahu dari mana kau bisa secerdik itu untuk menjawab pertanyaan guru galak itu. Siapa kau sebenarnya, dan aku punya firasat yang kurang baik padamu. Jadi aku mengikutimu sampai sejauh ini"   dengan membenarkan wajahnya dari keabstrakannya itu ia berkata dengan kerennya dan itu tentu ditanggapi lain oleh rina yang dari awal bertemu sudah berlaku dingin pada abdul.



~ BersambunG ~

tunggu kelanjutannya segera...
^_^

Kamis, 06 Februari 2014

Pembawa masalah

 Selamat datang dan selamat menikmati...  XD
^_^



Author : Abdul aziz
Genre   :  romace, komedi, mistery (detective), action
Type     : to be continue



>>Pertemuan<<

"Hoaaam..." udara seketika menjadi kotor karena seorang pemuda yang terbangun dari tidurnya baru saja menguap. Wajah yang tampak kacau namun tidak keren itu seakan menghiasi tempat bernaungnya dipagi hari.

    Abdul aziz namanya, seorang pemuda yang baru saja masuk sekolah sebagai murid kelas 3 SMA ini selalu mengawali paginya dengan berolahraga pagi, seperti berlarian kesana kemari karna bangun kesiangan, berlari mengejar bus sekolah yang selalu menjadi bus terakhir yang berangkat kesekolahnya. Belum lagi saat dia dihukum berdiri jongko saat dia terlambat kesekolah. Ada alasan mengapa dia selalu terlambat kesekolah, ia adalah anak yatim piatu, karna bosan dengan suasana dipanti asuhan, dia akhirnya melarikan diri dari pondok itu.

     Kehidupannya dibiayai oleh yayasan disekolahnya karna dia merupakan siswa yang cerdas, tapi tidak dengan kesehariannya. keseharian hidupnya dapat dipenuhi hasil dari dia bekerja sebagai penjual koran saat siang dan pagi. Abdul memang bersekolah secara bergilir baik siang maupun pagi. Kegemarannya adalah bermain video game, dia selalu mampu menyelesaikan game yang ia mainkan. sejak kecil juga sudah terlihat dari pontesinya memasang lego dalam berbagai bentuk.

"Maaf pak satpam, saya terlambat lagi. Silahkan berapa angka yang harus saya pecahkan saat ini ?" Tanya abdul dalam nafas yang terengah-engah.
"Heh !! Kamu lagi, mau sampau kapan kau telat terus ? Kau ingar berapa gaya hukuman yang telah bapak berikan padamu sampau saat ini ? Dan sudah berapa ribu angka yang sudah bapak katakan pada kamu ? Kali ini bapak akan...." belum pak satpam itu menyelesaikan kata-katanya yang melesat bagaikan jet tempur.
"Selamat pagi pak, maaf saya terlambat" cetus seorang wanita yang tiba-tiba berada disamping abdul.
"Oh de rina... silahkan de masuk, baru telat beberapa menit kok. Jadi silahkan masuk saja de" balas satpam itu dengan nada yang lemah lembut bagaikan bicara dengan anaknya sendiri dan bertolak belakang dengan nada bicara kepada abdul.

"Satpam ini aneh sekali, bisa-bisanya dia membiarkan wanita yang tidak jelas asal usulnya itu masuk kesekolah" batin abdul dengan kekesalannya pada sang satpam.

"
Pak itu siapa ? kenapa Wajahnya aneh begitu? Apa dia tidak mandi saat kesekolah ?" Berbagai pertannyaan keluar dari bibir seorang wanita yang tampak tipis itu.
"Hei, wanita yang tidak tahu aturan bersekolah, jangan bicara seenaknya ya. Kau tidaj diajarkan sopan santun kepada orang lain yaa..." tersinggung dengan ucapan rina, abdul pun berkicau dengan wajah kesal dan jengkel pada wanita itu.

"Iyalah...iyalah... pak satpam tolong hukumannya yang spesial ya untuk dia dan untuk persembahan untuk aku" tidak mau kalah, rina pun kembali mengeluarkan kata-katanya.
"Ba...baik de rina" jawab satpam itu khawatir.
"Huhf... bahkan satpam yang terlihat garang pun takluk didepan wanita judes itu. Sandiwara macam apa ini" Fikiran abdul pun menuai berbagai masalah.
"Baiklah, saatnya kembali ke dirimu bocah badung...."

     Hukuman kali ini diniatkan berbeda dari hukuman sebelum-sebelumnya. Dia diminta untuk menandatangani seluruh siswa kelas 3 dengan sebuah buku. Tentu saja tidak terlupakan dengan nama mereka masing-masing. Kendala ditemuinya saat dia ingin meminta tanda tangab kekelas yang didiami rina.

"Kreek...." suara pintu yang sudah agak lapuk itu menimbulkan suara yang tidak begitu enak didingar.

"Aduh, ini pintu horor banget ya suaranya" cetusnya dalam hati.
"Permisi bu, sayaa..." terkejutnya ia sampai-sampai kata-kata yang ada diotaknya tidak bisa terucapkan oleh bibir seksinya itu. Tatapan tajam para guru dan murid yang ada diruangan itu pun membuat abdul menjadi keringat dingin, kakinya yang halus mulai tumbuh rambut-rambut halus, matanya yang sipit kini mampu menandingi besarnya bola mata cyclop (monster bermata satu), tanganya yang coklat bagaikan caramel kini menjadi pucat bak kertas HVS, dilubang hidungnya mulai mengeluarkan cairan, namun dihisapnya kembali dan dinikmatinya sensai itu dengan waktu yang singkat.
"Brraaakk...." sebuah hentakan memecah keheningan kelas yang dingin itu. sontak abdul terkejut mendengar hentakan sebuah penggaris diatas meja.

"Hei kau !! Cepat apa yang ingin kau lakukan dikelas ku. Harus dalam hitungan 3 kau harus cepat menyelesaikannya..." ntah kerongkongan  macam apa yang membuat guru wanita itu mampu berteriak-teriak tanpa menghela nafas terlebih dahulu."I...iya bu, saya kemari untuk meminta tanda tangan para artis dikelas ini bu." Jawabnya dengan kegugupan yang dialaminya.
"Kalau begitu, jalankan syaratku terlebih dahulu karena telah mengganggu kelas ku".
"Firasat buruk kini menghantuiku sekarang" eluh abdul dalam batinnya.

     Hukuman push up sudah biasa dilakukannya, berlari, dan olah raga lainnya pun sudah pernah diberikan kepadanya sebagai hukuman karna sering terlambat datang. Tapi kali ini sekan berbeda, ia disuruh untuk menjawab soal-soal yang akan diberikan oleh guru itu. Fitri namanya, ia seorang guru IPA wanita disekolah itu. Sifatnya memang tegas dan to the point. Maksud dari guru itu sebenarnya baik, ia hanya ingin tahu seberapa kecerdasan dan kepintaran bocah itu. Kenyataannya memang ibu fitri sudah tahu kalau abdul murid yang berprestasi namun kelakuaannya yang sering terlambat membuat namanya tercemar dan kurang digemari oleh teman-temannya.

"Baiklah, ibu akan memberikan kau soal yang berbeda, silahkan ambil tempat duduk yang kosong lalu pindahkan kedepan. Bagi murid yang lain, bila tahu jawabannya silahkan langsung saja sebutkan jawabannya. Dan ibu hanya akan memberikan 5 buah pertanyaannya bila bocah pengganggu ini mampu menjawab 3 soal saja, maka kami akan menuruti perintahmu itu" kata demi kata dikeluarkan guru IPA itu. Dilain pihak, abdul sempat menelan ludah beberapa kali dan menunjukan muka saat dia diserang oleh penyakit diarenya.

"soal pertama tentang sejarah jam didunia. jam pada masa ini sangat penting bagi kita, sebagai penentu waktu jam juga bisa berfungsi sebagai penanda aktivitas kita sehari-hari. pertanyaan ibu untuk kalian adalah, apakah jam tertua dimuka bumi ini ?" tidak lama guru itu memberikan penjelasan sekaligus pertanyaan pada murid-muridnya, seseorang langsung mengangkat tangannya secepat cahaya kilat menyambar permukaan bumi.

"saya bu"
"iya. silahkan rina, apa jawabanmu ?" ternyata seorang perempuan yang tidak lain adalah musuh pertama abdul saat memasuki gerbang sekolahnya tadi pagi itu mengetahui jawaban apa yang diberikan pada guru IPA yang bernama fitri itu.
"jawabannya adalah jam sundial atau jam matahari pertama kali digunakan pada tahun 3500 sebelum masehi, bu"

"huh. bergaya sekali dia. mau bermain serius ya dengan ku"  batinnya yang masih kesal terus berkecambu semakin kuat untuk memberi pelajaran kepada wanita itu.

~ BERSAMBUNG ~