Cari Blog Ini

Sabtu, 15 Februari 2014

Pembawa Masalah (Part 3)

>>Firasat Yang Nyata<<

    Dalam cerita sebelumnya abdul aziz mendapatkan firasat buruk terhadap rina. Dengan alasan itulah mereka dapat berjalan bersama dan niat abdul yang awalnya menguntit kini bisa lebih leluasa untuk mengetahui siapa gadis itu. Gadis yang cukup pintar, menawan, namun abdul mengecapnya sebagai gadis yang sombong dan banyak gaya setelah kejadian didepan pintu gerbang sekolah itu. Aneh memang, dimana saat kau tidak tahu ada orang selain kamu yang kepintarannya bisa menyaingi mu. Mungkin dikarenakan oleh abdul tidak naik kelas satu tahun lalu. Dalam bergaul abdul memang tidak begitu banyak meluangkan waktu untuk teman-temannya, ia lebih baik berdiam dibawah pohon yang rindang ditemani dengan suara burung-burung dan angin sejuk disiang hari dengan membaca sebuah buku atau komik yang selalu dibawanya. Tidak jarang abdul menerima hukuman karna kebiasaannya dalam membawa-bawa bacaan yang tidak ada hubungannya dalam pelajaran disekolahnya itu, walaupun begitu dia sanggup menjawab apa yang ditanyakan oleh guru pengajarnya. Sontak sikap itu membuat murid lain cemburu atas kelakuannya.

"hei, kenapa kau menatapku seperti itu ?"  rina pun mengawali pembicaraan dengan mengejutkan abdul.
"eh ? e...tidak. Kau baru saja naik dari kelas 2 ya, kau tau aku seberapa jauh ?"  tanyanya dengan wajah yang penuh akan kepenasarannya.

"itu tidak terlalu penting. Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa kau bisa tidak naik kelas, padahal kau bisa menjawab pertanyaan bu fitri dengan lancarnya ?"  cetusnya, menjawab pertanyaan abdul sebelumnya.

"huh, tidak penting apanya, jelas-jelas kau tadi dikelas terkejut begitu"  batinnya.
"itu tidak penting. aku hanya tidak diperbolehkan lulus lebih cepat saja oleh para guru yang ada disekolahan itu"  karna kecewa, abdul pun membalas pertanyaan rina dengan wajah yang cuek namun dipaksakan olehnya.

"jawaban macam apa itu"  kata rina kesal.
"biarkan weeee"  tidak ingin kalah abdul membalas dengan menjulurkan lidahnya dihadapan rina.

      Suasana semakin mendukung keasyikan mereka dari waktu ke waktu, perjalanan yang jauh seakan tidak terasa bagi sepasang remaja cerdik macam mereka. Mulai dari ledekan sampai sindir-menyindir dengan rayuan gombal antar keduanya menambah keakraban mereka berdua.

     Akibat perjalanan yang cukup jauh mereka akhirnya merasakan kelaparan, kebetulan sekali didepan mereka terdapat sebuah cafe, tidak pikir panjang mereka berdua langsung masuk kedalamnya.

    Tidak lama mereka berbincang-bincang didalm cafe tersebut, kejadian yang aneh sempat terjadi. Para warga sekitar yang melintas didepan cafe itu terlihat buru-buru dalam melangkahkan setiap kakinya. Melihat kejanggalan tersebut, abdul langsung meminta pamit kepada rina dan meninggalkannya.

"Hei tunggu, semua ini siapa yang akan membayarnya ?"  Celetuk rina seakan tidak terima dengan perlakuan abdul yang semena-mena.

"Selain aku siapa lagi yang makan dan minum disitu ? Kalau bukan aku yang bayar kenapa kau tidak membayarnya saja dulu. Benarkan ?"   Ulasnya dengan nada yang sedikit sombong dengan senyuman manis diwajahnya itu.

      Tanpa ingin membuang waktu lagi abdul pun langsung keluar dari kafe itu dan menghampiri kerumunan orang yang ada siatu gang tidak jauh dari cafe itu.
   
       Perjuangan untuk melewati kerumunan orang tidaklah sia-sia, sampailah ia ditempat yang menjadi pusat perhatiab para warga sekitar. Terkejutnya ia saat sesosok mayat terbaring dihadapannya. Setelah bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada para saksi, abdul akhirnya tahu bahwa mayat itu adalah korban pembunuhan seseorang.

        Lama ia melihat dan memeriksa mayat tersebut, ternyata mayat itu persis dengan apa yang diceritakan oleh guru IPA sebagai kuis tadi pagi itu.

"Hei, apa kau tahu pelakunya tadi ?"
"Tidak, aku hanya melihat dari belakang saja, dia tidak seperti preman jalanan, dan mereka berdua terlihat akrab. Entah mengapa saat mereka keluar dari kafe, mereka sempat cek-cok yang cukup serius, mereka masuk kedalam gang itu dan tak tahu mengapa teman simayat keluar dengan wajah yang ketakutan walau ia masih bisa berjalan santai."   Perbinncangan kedua warga itu membuat abdul aziz memberikan sebuah petunjuk yang bagus.

"Terlihat dari bekas tusukannya, korban ditusuk dengan sebuah pisau kecil, ia mencuri pisau itu dicafe yang ku kunjungi itu, ah coba wanita yang meyebalkan itu bersamaku, akan kusuruh ia menanyakan hal ini pada pelayan restoran itu."  Analisis batin abdul bergejolak.

"Ternyata kau disini. Apa yang kau la..ku...kan"
"Kyyaaaaa... mayat, ke..ke..kenapa ada mayat digang ini?"   Histerislah sang wanita itu saat melihat sesosok mayat dihadapannya itu.

"Bisakah kau diam sebentar, disini ada orang yang sudah meninggal, kau tidak menghormatinya tau."    Balasnya dengan nada yang sediki menyindit

"Maaf nak, apa kalian tidak bisa menyingkir sebentar, disini bukan tempat bermain seumuran kalian"   celetuk seseorang melerai pertengkaran mereja berdua.

"Eh ?? Tidak apa, kami cukup berpengalaman dengan hal ini, dan tadi aku mendengar ada yang melihat pelaku pembunuhan ini, bisakah bapak-bapak sekalian mengangkat tangan jika menjadi saksi kejadian ini ?"   Ulasnya dengan sebuah pertanyaan kepada kerumunan warga disekeliling korban.

      Dengan pertanyaan itu ditemukanlah beberapa saksi yang dapat diandalkan untuk memberikan sedikit petunjuk sebelum polisi datang ketempat kejadian.

"Baiklah, aku akan menanyakan beberapa pertanyaan kepada para saksi dan diharapkan kepada para warga untuk tidak mendekat pada korban dan kau rina, temui pelayan kafe, minta keterangan apa ada yang mencuri sebuah pisau kecil"  jelas abdul memberikan instruksi.

     Dalam introgasi didapatkan beberapa keterangan tentang para tersangka. Yang pertama adalah teman dekat korban dia datang bersama korban menuju gang tersebut walau pun sebelumnya sempat cek-cok dengan korban sebelum menuju gang itu, dan tak lama temannya keluar dari gang tersebut dan korban tidak bersamanya. Yang kedua, diduga warga sekitar wilayah itu dia masuk kegang tersebut dengan terburu-buru. Tidak lama setelahnya, seorang preman masuk gang tersebut, tidak jelas apa yang ia lakukan, hanya sekejap ia masuk kegang tersebut dan keluar dengan wajah seakan melepas rasa kelegaan. Disamping itu tersangka yang kedua belum juga keluar, setelah beberapaenit kemudian berlalu, tiba-tiba saja orang tersebut belari ketakutan dan memanggil para warga dengan kalimat "tolong ada orang tewas digang itu !!".

       Polisi pun datang ketempat kejadian setelah 30 menit berlalu. Tim  insvestigasi segera memeriksa korban, ditemukan beberapa kejanggalan dalam pembunuhan itu. Sebuah tiket untuk masuk wahana akuarium bawah air dipegang korban walau hampir terjatuh, anehnya hajya ada sedikit bekas darah yang ada ditiket tersebut. Kejanggalan lain ditemukan oleh tim investigasi, yaitu sebuah tanda darah yang membentuk sebuah segitiga kecil yang hampir tidak terlihat oleh mata saat orang melihatnya dari kejauhan. Evakuasu korban pun diselesaikan, para saksi diperiksa dan abdul pun tidak mau ketingalan oleh hal itu. Abdul mencammpuri hal tersebut yang bermaksud untuk memberi tahu bahwa para tersangaka sudah ditemukan.

"Pak polisi, tidak usah mengintrogasi mereka. Para tersangka sudah berhasil dikumpulkan"   kata abdul dengan nada yang sedikit mengeras. Mendengar kegaduhan itu polisi pun menghampiri anak nakal itu.

"Sekolah dimana kau nak ? Apa kau tidak diajarkan sopan santun. Jangan bicara seolah aku ini temanmu ya. Bagaimana kau bisa mengumpulkan para tersangka ?"   Walau sedikit emosi, polisi itu merasakan sedikit terima kasih pada anak itu.

"Yang pertama adalah teman baik korban, menurut saksi dia pergi bersama korban menuju gang itu dan keluar hanya sendiri, pakaian yang mereka kenakan awalnya hampir sama dengan batik daan celana mengatung. Kedua adalah teman semasa korban SMA, saksi tidak tahu tentang tersangka yang kedua ini, saksi hanya melihat dia masuk dan tak kembali setelah tersanga ketiga masuk kegang itu dan keluar, barulah teman SMA korban keluar dengan wajah pucat dan berlari sambil mengatakan "ada mayat digang itu". Lalu yang ketiga adalah seorang preman jalanan yang sedang mabuk, tidak jelas kesaksian dari dia, semoga para polisi bisa mengembangkan kasus ini. Sekian dari saya"    penjelasan yang panjang lebar membuat sedikit polisi itu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh anak yang dianggapnya nakal itu.

        Introgasi para tersangka pun dilakukan, para polisi menerapkan ilustrasi TKP setelah interogasi selesai. Lagi-lagi abdul membuat ulah dengan masuk keruang introgasi untuk mendengarkan percakapan mereka. Memaksa masuk adalah hal yang buruk, apa lagi menerobos penjagaan polisi. Dengan sengaja membuat keributan diluar, akhirnya abdul pun diperbolehkan masuk oleh kepala devisi polisi itu. Penyampaian petunjuk kepada para polisi pun diberikan kembali oleh anak nakal itu.

"Pak polisi, ada yang saya lupakan. Tentang korban, tiket akuarium bawah tanah yang dipegangnya adalah pesan kematian yang dibuat oleh pelaku pembunuhan"   Jelasnya dengan yakin.

"Dari mana kau tahu ? Dan tolong biarkan kami yang menyelesaikan kasus ini. Kau masih terlalu dini untuk menjadi polisi dan jangan seenaknya memeriksa keadaan mayat tanpa adanya polisi yang memberikan perintah padamu"   balas sang kepala polisi itu.

"Dengan ini aku jadi terlibat dalam kasus ini kan, aku punya beberapa keterangan yang sama dengan para tersangka, pertama adalah kafe, saya dan teman wanita saya pergi kekafe yang ada didekat gang itu, hubungan kafe dan kasus ini adalah hilangnya sebuah pisau yang digunakan oleh pelaku untuk membunuh, pisau itu ternyata berasal dari kafe itu. Bagaimana pak polisi ?"   Pernyataan abdul pun ditanggapi positif oleh kepala polisi tersebut. Tidak lama para tersangka mulai khawatir.

"Pak polisi cepat selesaikan masalah ini !! Saya memang seorang preman, tapi membunuh bukab gaya kami, saya tidak berasalah"   celetuk seorang preman didalam ruangan introgasi membuat awal permasalah antara polisi dan para tersangka.

"Saya memang teman korban sejak SMA, dia orangnya baik dan ramah. Kami hanya bebincang dengannya dirumah ku dibalik gang itu, sepertinya dia punya banyak masalah. Saya memang tidak suka padanya sejak diSMA dulu, tapi entah mengapa dia merubah sikap ku padanya dengan sangat singkat. Kami baru selesai berbincang setelah jam 2 siang"   jelas salah satu tersangka.

"Tolong sebutkan nama kalian satu perasatu"    tegas sang polisi.

"Pak polisi apa sebaiknya memberikan KTP saja supaya tidak terjadi kebohongan"  ide bagus terlontar dari mulut abdul.

"baiklah Kartu Tanda Penduduk atau KTP kalian harap dikumpulkan"  tegas sang polisi.

       Entah angin apa yang membuat kasus ini cepat berlalu. Para tersangka sudah memberika kesaksiannya, kecuali teman dekat korban.

       Korban bernama budi santoso, berumur 37 tahun, dia adalah seorang pendatang dari desa kekota. Dia ditemani oleh teman dekatnya yang bernama yoga abimanyu. Setelahnya korban menemui teman semasa SMA bernama yoga ardiansyah. Yang mengejutkan adalah nama mereka bertiga mempunyai awalan yang sama, dan mama preman itu adalah yoga kurniawan.



Akankah Kartu Tanda Penduduk itu dapat dokumpulkan sebagaimana mestinya ??
Tunggu kasaksiannya di episode ke EMPAT...
Terima kasih....


~BersambunG~
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar