Cari Blog Ini

Senin, 17 Februari 2014

Pembawa Masalah (Part 4)

   >>Analisis VS Analisis<<


Mereka bertiga pun memeriksa dompet dan setiap kantung celana dan baju mereka masing-masing. Tiba-tiba saja sang preman menghentikan pencariannya, dia lupa bahwa ia tidaj memiliki hal semacam itu. Ardiansyah pun menghentikan pencarianya juga, dengan alasan tertinggal dirumah karna ia tidak tahu ingin ada keperluan apa dipanggil oleh anak SMA yang terkesan bodoh itu. Begitu pun dengan abimanyu, dompetnya hilang, dia berkata bahwa ia telah dicopet oleh seseorang.

       Dengan tidak ditemukannya tanda pengenal mereka, membuat para polisi bingung kecuali untuk ardiansyah sang tersangka kedua yang disuruh untuk mengambil tanda pengenalnya dirumahnya sendiri. Tidak beberapa lama ia pun kembali, YOGA ARDIANSYAH, tertulis jelas ditanda pengenalnya, fotonya pun cocok. Tetapi polisi tidak tahu untuk apa tanda pengenal itu. Disaat abdul diperlukan, dia malah tidak berada ditempatnya.
 
        Tidak ingin membuang waktu, abdul pergi membawa tasanya yang tertinggal dikafe dan menyusuri jalan yang dilewati preman dan teman dekat korban, yaitu arah kanan kafe dan gang itu. Penyusurannya dilakukannya demi mendapatkan bukti yang jelas, sebelum tim forensik menyelesaikan otopsinya dan para polisi meninggalkan tempat kejadian itu.

"Ah ketemu, dengan ini kau akan masuk kedalam rumah tahanan. Korban tidak tahu bahwan terdapat nama yang sama didaerah ini. Dengan begitu lenkap sudah analisisku"   gejolak batin yang merasa sungguh amat terasa gembira dikala kau mampu memecahkan misteri dengan tanganmu sendiri.

    Dengan terburu-buru abdul pun berlari menuju tempat kepala polisi itu berada dan menyuruh para tersangka untuk berkumpul.

"Pak kepala aku sudah menemukan sesuatu, aku ingin menyampaikan analisis ku, masalah tanda pengenal nanti saja. apakah boleh ?"   Tanyanya dengan membuat beberapa alasan.

"Pak polisi !! Kenapa bapak percaya begitu saja dengan anak ini, apakah pak polisi tidak curiga dengannya ? Sebelum polisi datang saja aku melihat bocah itu bermain-main dengan mayat teman dekatku itu"   celetu seseorang secara panjang lebar dengan nada yang sedikit mengangkat.

"Eh ? Kau berada disana ya ? Kenapa aku tidak melihat mu. Seharusnya pakaian mu mencolok kan bila datang dengan batik semacam itu. Atau kau sedang meyakinkan sesuatu ditempat terbunuhnya teman dekatmu ? Apa benar begitu yoga ?"   Sebuab analisis kecil dikeluarkan abdul sebagai awalan dalam menangkap sang pelaku.

"Apa benar itu ? Dan namamu yoga juga ya. Dari mana kau tahu nak ?" Tanya kepala polisi itu.

"Tunggu. Aku hanya berkeliling dengan baju yang berbeda saja, awalnya aku mengajak budi makan dikafe itu dan setelahnya aku ingin pergi bersamanya, aku malu jika harus pergi keauatu tempat dengan baju semacam orang jawa seperti itu. Jadi aku memutuskan untuk ganti baju dan budi kusuruh menunggu digang itu"  jawabnya dengan wajah yang penuh keyakinan dan sedikit memelaskan wajahnya itu.

"Aku tahu namamu dari sebuah darah yang berbentuk segitiga itu. Dan tiket akuarium bawah tanah itu menunjukan bahwa seseorang harus pergi kesuatu tempat"

"Kita urutkan saja kasus ini. Mulai dari sang preman, kau dalam keadaan mabuk kan, tentu kau pergi kegang itu bermaksud untuk membuang air kecil karna kau tidak menemukan toilet dimana-mana. Benarkan ?"   Lanjutnya menyusun rangkaian puzzle masalah yang didapatnya.

"Iya..." jawab sang preman dengan santainya.

"Bekas dari buangan dia masih terasa saat kerumunan orang mulai mengelilinginya. Selanjutnya adalah yoga ardiansyah. Kau sebenarnya tahu bahwa korban berada disana, sebenarnya pernyataanmu berbohong. Setiap orang yang melakukan perbincangan dirumahnya sendiri, pasti akan selalu menyuguhkan sesuatu pada tamu itu. Kau tidak benar-benar membencinya, kalau kau memang membencinya, kemungkinan kau tidak ingin membukakan pintu untuknya. Sebab itulah kau berbohong dengan pengakuan seperti itu. Yang sebemarnya adalah..."  belum abdul menyelesaikan analisisnya tiba-tiba saja ardiansyah terduduk dengan lututnya serta mengakui yang sebenarnya.

"Aku menemukan budi sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Aku melihat banyak darah disekitar tubuh korban, dan ada sedikit masalah yang membuatku terkejut. Terdapat nama yoga disamping kepalanya, jadi aku hapus saja darah itu secepatnya dengan tiner. Belum aku selesai, tiba-tiba saja kurnia datang dalam keadaan mabuk. Setelah itu selesai, aku bermaksud menaruh tiner yang kubawa kedalam rumah, tanpa sengaja aku berpapasan oleh seseorang yang misterius menuju kearah budi. Secepatnya aku taruh tiner itu, dan langsung berlari kegang itu sambil mengarakan bahwa ada mayat digang itu. Aku takut bahwa pesan itu adalah diriku, karna tempatku yang cukup dekat dengan gang itu"   dalam keadaan menangis, ardiansyah meyampaikan kejujurannya. Analisis belum selesai abdul mendapatkan petunjuk baru untuk menuntut korban.

"Sudahlah, sebaiknya kau mengikhlaskannya saja. Dan menghukum pelakunya. Hanya kau, YOGA ABIMANYU yang bisa melakukan ini dengan jangka waktu yang cepat"   penuduhan pun dimulainya. Keadaan seperti dikejutkan sesuatu.

"Huh, apa kau punya bukti dan kenapa aku harus membunuh teman dekat ku sendiri ?"  Dijawablah penuduhan itu dengan wajah yang meremehkan.

"Dompet dan gagang pisau yang ku temukan. Kau memisahkan barang bukti mata pisau dari gagangya supaya bukti yang ditemukan tidak terlalu kuat. Nama yang ditulis korban adalah untuk kau. Korban mengetahui ciri khas pada tubuhmu, sehingga dia bisa tahu siapa yang membunuhnya. Jalan yang sedikit pincang, itulah cirinya"   dilanjutlah analisis yang dirangkai sedemikian rupa oleh abdul.

"Jalan pincang ? Ya benar, orang yang memakai topi, shal, kaca mata hitam, jaket bisbol, sarung tangan, dan sepatu boot. Dia berjalan pincang saat kami bertemu secara tidak sengaja"   dukungan didapatkan abdul. Membuat analisisnya semakin yakin untuk kasus ini.

"Kau yoga abimanyu, pasti paham betul tentang jalan ini kan, kau menyamar menjadi seseorang yang tidak dikenali, dan membunuh korban dari belakang dengan menusuk bagian depan korban tepat didadanya. Kau berlari melewati jalan yang sama dan berganti baju. Memisahkan mata pisau dan gagangnya adalah salah satu rencanamu. Jika tebakanku benar kau masih membawa mata pisau yang kau gunakan untuk membunuh jika darahnya sudah dihapus maka akan timbul kembali karna aksi luminol pada darah"  dengan senyumannya, seakan menandakan berakhirnya analisis seorang remaja pria dengan kecerdikannya.

     Yoga Abimanyu. Ditetapkan sebagai pelaku oleh abdul aziz. Namun tidak tahu kenapa perasaan bahaya masih mangancam.

"Tok..tok..tok...  kreeek..."  suara ketukan pintu menghentikan sebuah langkah polisi yang ingin menangkap abimanyu. Seiringan dengan ketukan pintu itu mulut pintu pun semakin terbuka lebar.

"Apa kau tidak tahu sebuah kode yang diberikan seseorang padamu ya. Abdul Aziz"  suars seorang wanita muncul dari balik pintu yang terlihat semakin lama semakin lebar membuka sampai sesosok tubuh molek seorang wanita remaja yang berdiri didepan pintu itu menampakkan dirinya. Sontak abdul yang mendengar dan melihat itu terkejut.

"Eh ? Kenapa kau ada disini ?"  Dengan terkejut abdul menanyakan alasan kenapa ia disini.

"analisismu sedikit melenceng, karna itulah kau melebih-lebihkan analisismu. Makannya kau harus memeriksa isi tasmu terlebih dahulu"
"Tap"  suara pintu tertutup seakan mengakhiri pernyataan rina pada aziz.

"Apa kau menelusuri kasus ini lebih dalam ? Dan kenapa kau sudah berganti baju saja ? Siapa kau sebenarnya ?"   rentetan pertannyaan dilepaskan oleh abdul kepada rina.

"Dia adalah seorang detektif wanita, Rina Agustine. Dia diberi julukan oleh para polisi yanv dibantunya dengan sebutan "Wanita Penghakim""  nada serius diciptakan oleh kepala polidi yabg mengenal rina cukup lama.

"De...detektif"   ketiga tersangka tersangka begitu terkejut dengan kedatangan seorang detektif wanita,  begitu pun dengan abdul aziz yang sangat terkejut mendengar hal itu. Suara mereka menyatu saat mendengar bahwa rina adalah seorang detektif berpengalaman.

"Bagaimana bisa ? Jadi selama ini yang aku ikuti itu adalah seorang detektif wanita ?"  Kata-kata yang tidak percaya akan kesaksiannya itu terlontar begitu saja dari mulut abdul.

"Sudahlah...sudahlah... kau membuat heboh panggung ini pak kepala. Bagaimana kita lakukan ini diluar saja ?"  Katanya mencoba menenangkan suasana.

   Rina pun mengajak semua orang yang berada di ruangan itu untuk pergi ketempat kejadian pembunuhan terjadi. Disanalah awal analisis seorang detektif wanita dimulai.

"Baiklah, korban dibunuh ditempat ini. Korban dibunuh dengan pisau kecil, lalu dada korban disobek oleh pisau itu, akhirnya korban tewas kehabisan darah. Ada bekas darah yang berbentuk segitiga kecil dan tiket akuarium bawah tanah yang terdapat darah korban. Saya menemukan sebuah tanda pengenal dengan nama Yoga Abimanyu, anehnya, foto dalam tanda pengenal itu tidak diberikan. Jelas dia bukan pelakunya. Salah satu pekalunya adalah pengguna pisau dari kafe didekat gang ini. Kurasa mereka bertiga memiliki pisau itu, bisakah lalian keluarkan ?"  Analisis awal seorang detektif wanita telah dimulai. Abdul yang memperhatikan rina dengan seksama tampak kagum dengannya bisa menemukan beberapa barang bukti yang cukup banyak.

"maaf detektif, saya tidak membawa hal semacam itu"  jawab tersangka yang bernama yoga ardiansyah itu.

"Memang itu yang kuhapkan"  celetuk rina.

"Eh ? Apa maksudmu ? Lihatlah, punya teman dekat korban, hanya mata pisaunya saja yang dimilikinya. Jika mata pisau itu diperiksa maka akan keluat aksi luminol dari darah korban. bagaimana kau mengharapkan ardiansyah tidak membawanya ?"  Berbagai pertanyaan keluar dari mulut abdul dengan sikap yang sedikit bingung dengan itu.

"Sudahlah kau tenang dulu. Teman dekat korban, tanda pengenal ini punyanya kan, aku menemukannya dikantung celana dalam korban"  Jawab rina menenangkan abdul yang tampak tidak terima akan hal yang disampaikan detektif wanita itu.

"Pelaku sengaja membuat polisi bingung dengan kesaksiannya dan cara pembunuhannya, pisau dari kafe itu memiliki tanda khusus dimata pisaunya dan gagangnya. Digagang pisau itu terdapat sebuah nama COAL, dan dimata pisaunya terdapst sebuah tulisan MINERAL. Kafe itu dahulunya adalah sebuah tempat yang menyediakan air bagi yang kehausan ditempat itu. Semua minuman dan beberapa menu lainnya dibuat dengan sistem batu bara. Semua warga disini tau bahwa kafe itu sangat terkenal dulunya. Pelaku sengaja membuat pembunuhan dengan pisau yang hampir sama bentuk dan bahan pembuatannya untuk membunuh. Jika diteliti lebih dalam ada sedikit perbedaan didalamnya. Pisau MINERAL COAL memiliki ciri khusus yaitu didalam gagangnya terdapat sebuah tulisan sebagai motivasi pengunjung ditempat itu. Kurasa abimanyu tahu akan hal ini. Benarkan ??".

    Dengan sedikit informasi, rina bermain-main kata sesuka hatinya. Tekanan demi tekanan diberikan oleh rina sebagai kode, apakah sang pelaku mau menyerahkan diri dihadapannya atau tidak. Abdul yang saat itu terus terfokus oleh analisis rina masih tidak percaya dia tahu sebanyak itu tentang kafe yang baru dikunjunginya. Sebuah pertanyaan mengakhiri analisis awalnya. Sang kepala polisi hanya bisa terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut rina disetiap detiknya. Tidak ada kata ampun bagi penjahat, walaupun hal pribadi dan hal sepele apapun. Penegakan hukum harus dikobarkan dengan adanya keadilan sosial dinegara indonesia ini.



Oke, sampai disini bersambung dulu ya...
See you next part...
^_^









Tidak ada komentar:

Posting Komentar