AzPAda FanFic manyajikan beberapa cerita, saya penulis yang masih newbie. Jadi bila ada kesalahan dan cerita yang agak kurang jelas harap kritik dan sarannya... Disini saya akan memuat beberapa cerpen saya sendiri yang setiap judul atau episodenya bersambung. Didalamnya akan saya sisipkan tentang genre misreti (seperti, permainan teka-teki, detektif, dan lain sebagainya). Terima Kasih telah berkunjung, Semoga menyenangkan... ^_^
Cari Blog Ini
Minggu, 23 Februari 2014
Love Is Empety Place
Cerita ini berbeda dari yang sebelumnya. Tidak ada sangkut pautnya dengan cerita sebelum-sebelumnya.
Author : abdul aziz
Sinopis : rina agustin
Genre : romance, comedy, action
Emely, sebuah nama panggilan yang cukup mempesona banyak orang. sayangnya ia adalah wanita yang pendiam, teman-teman disekitarnya tidak terlalu memperhatikan emely. Dikala jam istirahat berdering, bukan sebuah kantin yang dia tuju, melainkan sebuah ruang perpustakaan yang sunyi dan tenang terkadang ia sering tertidur dikelas. Keseharian disekolahnya hanya membaca buku-buku dan membuka blog pribadi miliknya, hubungan keluarganya sudah 1 tahun memburuk, hidup bersama seorang ibu dan pembantu dirumahnya seakan menimbulkan rasa bosan dengan kehidupannya. "Emely Face" itulah nama blog pribadinya, sebuah kumpulan cerita kisah nyata dalam kehidupannya, tidak banyak kesenangan didalam blog tersebut, rasa sedih, murung, hilang asa, hingga pengalaman untuk mendekati stres pun pernah dialaminya.
Tidak semua kesedihannya menemani setiap kehidupannya, rasa senang saat melihat sesosok pangeran matahari yang terang benerang selalu menjadi momen yang tidak ingin ia lewatkan. Mavin, seorang pria periang yang berusaha membuat masalah hidupnya sendiri. Keluarganya amat sangat mencintainya, kemanjaan ayah dan ibunya membuat kisah hidup mavin bertolak belakang dengan kehidupan emely.
Mavin, lahir dari keluarga sederhana yang sangat harmonis. Besikap baik kepada sebayanya, sikap tolong menolong, bertanggung jawab, periang, namun itu berubah saat ia beranjak kekelas tingkat 11 SMA. Dengan sikap yang seperti itu ia menuai banyak masalah, selalu dihukum oleh guru, bertingkah aneh dan iseng adalah sikap barunya. Walaupun begitu mavin masih punya rasa prihatin dan tanggung jawab kepada semua orang. sikap dingin juga tidak jarang ia keluarkan hanya untuk meladeni para gengster
***Awal Semester 4 (Kelas 2 SMA)***
"Wah, inilah yang aku inginkan. Bersandar dibawah pohon yang menyejukkan ditemani dengan kicauan burung serta angin yang terlihat gembira menyapu-yapu helaian demi helaian rambut ku. Wah senangnya" gembira, senang, itu memang sikapnya bila menemui kesendirian dengan suasana yang sangat mendukungnya. Setiap jam istirahat ia selalu bersandar pada pohon rindang yang berada ditaman sekolah, bukan hanya taman, perpustakaan pun telah menjadi tempat favoritnya disekolah. Emely pun tidak membuang waktunya, laptop yang dibawanya langsung dibuka dan dinyalakan, secepatnya ia membuka blog pribadinya.
Melakukan hal yang menyenangkan adalah dimana ia menulis serta mengisi blog pribadinya dengan berbagai cerita fiksi yang ia buat, ceritanya yang paling banyak mendapat sorotan adalah cerita dengan tema "you place my love". Cerita itu berisi tentang kehidupannya dengan mengganti beberapa nama dan menambah sedikit cerita fiksi didalamnya. Mengimpikan seseorang pria yang mampu menguatkan hidupnya adalah tujuan dari peran utama sang wanita dalam cerita tersebut. Dengan cerita itu, beberapa penggemar blog emely sangat antusias untuk membaca setiap episode yang dibuat emely. Sunset, sebuah nama yang tidaj asing lagi dalam blog pribadi emely, banyak masukan yang diterimanya, dimana saat sunset memberi semangat, tak tahu kenapa emely menjadi sangat bergairah untuk menulis.
"Wah, sunset komentar dicerita baru yang ku kirim semalam. Kalau dilihat dari waktunya, baru beberapa menit dari jam istirahat tadi. Tidak apa-apalah tak usah difikirkan, yang penting dia selalu menjadi penyemangat diblog ku" dengan wajah yang berbunga-bunga, ia berkata-kata dalam kesenangannya.
"Hei sebenarnya siapa sih kamu ?" Balas emely dalam kolom komentar dicerita itu.
Disela-sela waktu menunggu sebuah balasan komentarnya ia meneruskan adegan ceriranya yang tidak bisa diselesaikannya tadi malam. Terlalu asyik dengan penulisan fiksinya, ia hampir tidak mendengar suara bel masuk yang menandakan pelajaran akan dimulai kembali itu. Disaat itu juga sebuah komentar balasan diterimanya, "sebuah matahari senja yang memberikan warna berbeda". Itulah tulisan yang terlihat jelas oleh kedua bola mata emely.
Tanpa harus peduli ia akan masuk terlambat atau tidak. Emely memyempatkan diri untuk membalas komentar dari nama misterius itu. Kembalilah emely kedalam kelasnya, suasana yang dirasakan emely didalam kelas sungguh berbanding terbalik dengan suasana saat jam istirahat berlangsung.
"Kriiing...." nada panjang yang menandakan berakhirnya pelajaran pun berdering. Perubahan sikap semakin terasa saat bel akhir pelajaran berbunyi. Wajah yang menandakan akan terjadinya hal buruk didapatkannya, emely tidak tahu apa yang akan dihadapinya saat kembali kerumah.
Berujung pada sebuah pengasingan disebuah kamar adalah tujuan sehari-hari emely selepas bel pulang berbunyi. Tidak heran jika saat pulang kerumah ia mendapati ayah dan ibunya yang selalu bentengkar, mereka tidak mau mengambil jalan perceraian, hanya pisah rumahlah jalan terbaik untuk melerai pertengkaran mereka. Emely ingin sekali pergi kesebuah desa yang tenang, tidak ada sekelompok penggangu dikelas, orang tua yang saling menyayangi dan memperhatikan kondisi anaknya itu. Tempat tujuan itulah yang selalu menjadi sebuah latar belakang dari semua cerita fiksi yang tertulis diblog pribadinya.
"Tok...tok... permisi" suara yang tidak asing ditelinga emely kini muncul tiba-tiba beriringgan dengan ketukan pintu masuk kelasnya emely. Sontak emely menoleh kearah datanhnya suara pintu itu, kagetnya ia saat melihat mavin sudah berdiri didepan pintu masuk.
"Permisi, apa disini ada sebuah sapu ?" Tanya mavin kepada gadis yang terpaku melihat orang yang mengetuk pintu itu.
"Oh, e... iya silahkan masuk, saya tidak begitu tahu tempat persembunyian sapu itu" dengan sedikit kikuk, emely mencoba sedikit tenang.
"Kenapa ?" Pertanyaan singkat keluar dari mulut mavin.
"A...apanya yang kenapa ?" Pertanyaan kembali dibalikan oleh emely yang tidak tahu alasan mengapa mavin bertanya seperti itu.
"Wajah mu..." tiba-tiba saja mavin mendekati wajah emely. Wajah emely pun mundur seiring dengan wajah mavib yang terus maju mendekati wajah emely.
"Ke...ke..kenapa de..dengan wajah ku ?" Tanyanya didalam situasi yang mendebarkan bagi emely, karna baru kali ini ia didekati oleh pria yang disukainya sejak masuk sekolah itu.
"Ada sedikit kotoran diselah mata mu dan pancaran matamu buruk. Lain kali kau harus sering tidur lebih awal" Dengan sikap dinginnya, secara tiba-tiba mavin memberi saran kepada emely untuk tidak tidur terlalu malam.
"Ko...kotoran mata ?"
"Buugghh..." tinju super melayang kewajah mavin saat emely mendengar kotoran mata yang terdapat diwajahnya.
"Jangan sembarangan bicara ya, memangnya kenapa kalau aku tidur larut malam ? Kalau kau ingin mengambil sapu silahkan cari sendiri, huh" dengan kesalnya ia pergi meninggalkan mavin yang terlihat mengerang kesakitan oleh pukulan emely.
"Aduuuh... wanita macam apa dia, tanpa sebab yang jelas langsung menghajar ku begitu saja. siapa suruh tidur dikelas, jadinya kan ada kotoran dimata mu. Yang penting sekarang adalah mencari sapu. Sapu dimana kau ? Sapu ?" Entah sikap apa yang dimiliki mavin, sepertinya sulit untuk ditebak.
Dilain sisi, emely ingin pergi kesuatu tempat untuk menenangkan diri dan melanjutkan fiksinya itu.
"Perpustakaan atau taman dekat sekolah ini ya ? Jika perpustakaan aku bida lebih tenang, tapi waktu yang diperoleh tidak banyak. Jika ku pergi ketaman, suasana cukup tenang dan bisa berlama-lama disana, tapi jika turun hujan habislah diriku. Huhf mana yang harus kupilih ya ?" Kebimbangan menyelimuti perasaan ememly, tempat tujuan selain rumah adalah tempat beresiko bila ia sedang asyik menulis fiksinya.
"Lebih baik diperpustakaan saja" suara tak asing terdengar tiba-tiba dari belakanh emely.
"Kyaaaa..."
"Plaaak..." jeritan serta tepukan tangan terhadap objek lain memang sangat serasi bila didengarkan.
"Eh ? Te...ternyata kau vin, ma...maafkan aku ya"
"HEI !! Kenapa kau selalu memukulku dari tadi ? Belum luka ini sembuh, kau sudah membuat noda merah lima jari dipipiku. wanita macam apa sih kau ini ?" Pengangkatan nada keras oleh mavin telah terjadi, ia kesal oleh wanita itu karna setiap bertemu emely selalu memukul wajahnya.
"Aku kan sudah minta maaf, lagi pula kau kan mengagetkan aku" dengan wajah penuh penyesalan dan nada bicara seakan ingin menangis, telah dilakukan oleh emely demi mandapat simpati mavin.
"Baiklah-baiklah, kali ini aku maafkan. Jadi kau ingin pergi kemana ? Taman atau perpustakaan ?" Tanya mavin walau masih kesal terhadap emely.
"Emm... kalau aku keperpustakaan, aku tidak punya banyak waktu, perpustakaannya sebentar lagi akan tutup, bila ku pergi ketaman, aku khawatir nanti akan turun hujan" berbicara sambil nenundukan kepala. Emely seakan menyesali apa yang dilakukannya kepada mavin.
"Tenang saja, tidak perlu merasa bersalah dan khawatir begitu, jika keperpustakaan aku punya kunci duplikatnya" wajah yang tersenyum mengiringi kata-kata mavin untuk meyakinkan emely pergi keperpustakaan.
"Lalu bagaimana kalau kita disuruh keluar ?" Tidak lagi berbicara sambil menundukan kepala, kali ini emely lebih percaya diri berbicara dengan mavin.
"Itu mudah, diperpustakaan punya sebuah rak buku pajangan, rak itu bisa digeser dan terdapat sebuah ruangan kecil didalamnya, banyak kumpulan buku bagus disana, akan tetapi buku-buku itu telah usang dan penub dengan debu, jadi saat perpustakaan ini akan ditutup, kita bersembunyi didalamnya. Bagaimana ?" percakapan serius pun dimulai oleh mavin.
"Apa ada tempat seperti itu ? Kenapa aku tidak tahu tentang rak geser itu ? Dan jika ada bagaimana kalau penjaga memeriksa tempat itu ?" seakan tidak percaya dengan perkataan mavin, emely mengeluarkan banyak pertanyaan padanya.
"Sudahlah nanti saja kujelaskan, yang penting kita sampai disana dan menyusun siasat diperpustakaan itu. Dan tempat itu hanya kepala sekolah saja yang tahu" tetap saja mavin masih memberikan kata-kata dengan ekspresi wajah yang serius pada mavin.
Mereka tidak sadar bahwa mereka sudah berada didepan perpustakaan itu. Keseriusan mavin dalam berbincang membuat jarak tempuh perpustakaan menjadi lebih dekat. Sebelum menyadari bahwa mavin dan emely sudah sampai diperpustakaan, mavin memutuskan untuk berlari supaya cepat sampai.
"Sebaiknya kita berlari supaya kita cepat sampai sebelum perpustakaannya tutup dan bisa menyusun siasat secepatnya" usul mavin kepada emely. Sigap emely manahan tangan mavin, suasana tersebut dirasakan sangat romantis bagai film ditelevision. Mereka saling memandang, rambut mereka diterpa angin sejuk yang beraturan, senyuman mereka seolah memberikan tanda satu sama lain. Dan tiba-tiba.
"HOI !!! Kalian masih sekolah, kenapa berpegangan tangan didepan perpustakaan ini. DILARANG MEMBUAT SUASANA SEPERTI DI FTV !!" Hentakan nada sang penjaga sekolah seakan mengguncangan tanah disekitarnya. Mereka terkejut oleh kedatangan penjaga sekolah tersebut. Beruntungnya mereka tidak menerima hukuman apa-apa, sialnya lagi pintu perpustakaan sudah terkunci dengan pintu ganda yang baru terpasang tadi siang.
Setelah kejadian itu, emely memutuskan untuk pulang kerumahnya yang hampa. Kecewa memang, akan tetapi saat sampai dirumah, ia melanjutkan fiksinya dengan perasaan yang sangat gembira, sempat ia heboh sendiri kalau-kalau emely mengingat kejadian tadi sore saat disekolah. Bukan hanya teman diblog pribadinya, ternyata teman yang disukainya sejak masuk sekolah itu memberi respon positif terhadap emely.
Hari berlalu dan berlalu, tak tahu kenapa, emely merasa sedih dan kehilangan saat mavin tidak menemuinya selama 3 hari berturut-turut. Yang bisa ia sesali hanyalah, "kenapa aku harus berbeda kelas dengan orang periang itu ? Kenapa ?" Begitulah penyesalan yang sangat mengganggu setiap pemikiran emely. Emely hanya bisa terdiam melihat langit-langit kelasnya dan bertanya-tanya.
"Atap yang malang kenapa kau berlubang dan tidak ada yang memperdulikanmu ? Apakah kau harus membuat lubang yang lebih besar lagi supaya kau bisa jelas terlihat bahwa kau terluka dan nampak buruk ? Atap, kenapa aku harus bicara kepada mu ? Kamu kan benda mati, kurasa aku sudah mulai tidak waras lagi" tanpa emely sadari, suara yang keluar dari mulutnya membuat teman dan guru yang sedang mengajar memperhatikannya hingga puisi yang ia ciptakan selesai dibacanya.
Tatappan kejam, membuat emely merasa gugup dan takut karnanya.
"Ke...kenapa kalian memperhatikan ku seperti itu ?" Tanya emely dalam kegugupan kepada teman-temannya.
"Emely !! Kalau kau sedang kesurupan, silahkan keluar. Lanjutkan kesurupanmu diluar kelas, mengganggu ketertiban kelas saja" ujar guru galak yang sedang mengajar dikelas itu, beruntung emely masih dimaafkan oleh guru itu.
"Hei orang gila, kau kenapa ? Kehabisan teman ya..." ledek salah satu wanita dikelasnya itu. Ejekan itu pun dihiraukannya, dengan menundukan kepala ia memberikan tanda bahwa ia menyesal dan bermaksud untuk meminta maaf telah mengganggu pelajaran.
"Sasha, sepertinya dia menghiraukan mu ? beri pelajaran saja nanti selepas pulang sekolah" usul jahat pun mulai menggerayangi pikiran sasha dan kelompok wanitanya.
"Benar juga kau natalie, kita lihat saja pertunjukan yang akan kami berikan pada mu emely" sasha pun setuju dengan perkataan natalie teman satu perkumpulannya.
"Lihat saja emely (batin sasha) wuahahahahahaha" sasha pun tertawa dengan nada yang tidak pelan lagi. Sontak perbuatan itu menimbulkan perhatian seluruh orang dikelas. Mata tajam dari para murid dan guru pun tertuju pada sasha yang mengganggu pelajaran.
"Duughh..." sasha pun diusir keluar dengan tendangan sang penguasa kelas itu.
"Kriiing" bel penanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar berbunyi kembali.
Sasha, pengganggu kelas itu belum diberi kesempatan masuk oleh gurunya, lebih buruknya ia dipanggil keruang guru untuk dimintai keterangan. Kedua rekannya yaitu natalie dan karin mencegah emely untuk tidak keluar dari kelas apalagi keluar sekolah.
Tidak diduga, ntah apa yang menyebabkan mavin datang kekelas emely. Ditemuilah sebuah pemandangan yang tidak mengasyikan dikelas tersebut, tidak pikir panjang mavin pun mencoba membantu emely.
"Hei-hei... ada apa ini ? Kenapa kalian ribut sekali ?" Wajah sinis dan kata-kata yang dikeluarkan, seakan menambah kesan buruk bagi para pengganggu itu.
"Oh ternyata mavin, kudengar kau sedang ada masalah disekolah ini ya, setiap hari selalu mendapat hukuman dari para guru. Padahal kau anak mamih, kenapa kau bertingkah seperti jagoan disekolah ini ?" Ejekan demi ejekan keluar dari mulut pedas kedua pengganggu itu.
"Tak apa itu bukan urusan kaliankan ? Aku kesini hanya ingin memanggil emely keruang guru dan meminjam sebuah sapu. Boleh ?" Dengan mudahnya mavin menjawab ejekan natalie.
"Jika kalian tidak mau menyerahkan emely kepada guru BP disekolah ini, silahkan saja kurung dia disini. Setidaknya kalian mendapat hukuman yang lebih berat dari pada aku ? Sebelum aku keluar dari kelas ini, bolehkah aku membawa emely keruang guru ?" Setelah mengambil sapu disudut kelas, mavin memberi sedikit gertakan kepada dua wanita labil itu. Senyuman mavin saat membelakangi natalie dan karin disadari oleh emely dimana wajahnya ingin menangis saat perlakuan dua orang tersebut. Perubahan ekspresi wajah sedih menjadi tersenyum adalah sebuah gambaran yang cocok untuk keadaan saat ini. Pemikiran panjang pun dilakukan oleh natalie dan karin, suatu kejadian yang membuat kedua orang pengganggu itu berhenti berfikir adalah disaat mavin menggandeng begitu saja tangan emely menuju luar kelas dengan santainya.
"Hei tunggu, apa yang kau lakukan ?" Tanya karin.
"Sudah kubilang kan, aku akan membawa emely keluar dari penyiksaan yang kalian berikan" jawabnya tegas.
"Klek" pintu kelas emely tiba-tiba terkunci. Dua orang pengganggu itu berteriak minta tolong dan maaf berkali-kali kepada mavin, tetap dihiraukannya suara parau yang mengganggu telinga itu.
"Hei ? Kenapa kau beralasan aku dipanggil oleh guru ?" Satu pertanyaan yang membuat heran emely telah diajukannya, lorong sekolah yang sepi membuat suasana romantis kental terasa.
"Kenapa ya... ? Nanti kau juga akan mengetahuinya. Asalkan kau masih bisa tersenyum aku akan lebih tenang lagi, hidupmu itu perlu sebuah hiburan, kau masih sama saat aku dipukul kau waktu itu" jawab mavin.
"Kenapa tidak sekarang saja ? Jadi sejak dulu kau mengkhawatirkan ku ya ? apanya yang tidak berubah saat aku memukulmu waktu itu ?" Barisan pertanyaan serempak datang kepada mavin. Berjalan dilorong yang sunyi dan sepi, memang waktu yang cocok untuk berbincang-bincang sayu sama lainnya.
"Kau terlalu banyak bertanya, dan sulit mendapat saran dari orang lain ya. Sudah kubilang jangan tidur terlalu larut, tertidur waktu istirahat itu buruk sekali kau tahu ?" Singkatnya.
"Orang tua ku baik terhadap ku, tapi terkadang aku merasa bosan selalu diperhatikan terus. Jadi aku membuat cerita berbeda disekolah, hidup tanpa masalah memang tidak seru, ya kan ?" Terusnya.
"Hei mavin, kau rasanya bagaimana masalah datang bertubi-tubi dan kau hanya bisa pasrah karnanya ?" Perbincangan seriuspun ditunjukan oleh emely.
"hhmmm... bagaimana ya, jika kau hanya bisa pasrah lalu kenapa kau masih bisa tersenyum saat keluar dari kelas tadi, bukannya itu sebuah peluang ?" Senyuman saat berbincang memberikan kesan yang berbeda terhadap emely.
"Hiks...hiks...hiks..." tangisan emely pun mengalir digaris pipinya secara perlahan-lahan.
"Eh ? Kenapa kau menangis ? Wah maaf ya telah membuatmu kesal, ini salah ku" kebingungan mavin terlihat saat emely tiba-tiba saja menangis. Sikap menggaruk kepala dan tersenyum dengan mata yang terpejam petanda bahwa mavin telah berbuat emely tidak enak hati.
"Daph" sebuah pelukan yang mengejutkan mavin dibalik tawanya terlihat. Bukan bermaksud ingin menolak pelukannya, akan tetapi pelukan yang diberikan emely terlalu kuat membuat mavin sulit bernafas.
"Tu...tunggu dulu, bisa kau kendurkan sedikit pelukanmu, aku jadi sesak nih. Uhuk...uhuk" mendengar derita itu emely pun mengendurkan pelukannya yanpa melepas pelukan tersebut. Merasa ingin menenangkan emely, mavin akhirnya berbalas pelukan terhadap emely. Inilah romansa sepasang anak remaja, kehangatan pelukan mereka mengalahkan sunyinya lorong yang dipenuhi hal negatif. Pelukan memang sangat dibutuhkan oleh setiap pasangan untuk menenangkan hati mereka masing-masing. Penguasaan diri terhadap nafsu diperlukan untuk perlakuan ini.
Dibalik itu sebuah bisikan ditelinganya adalah cara menyamankan diri sesamanya.
"Hei, jangan menangis lagi. Kau taukan tangisan bisa mengendurkan kulit wajahmu tau" dibalik pelukannya itu, mavin berbisik.
"Aku tidak peduli hal semacam itu, ini sebagai tanda terima kasih ku kepada mu, kau tau ? Sebenarnya..." bisikan mavin pun dibalas emely, namum belum ia menyelesaikan kalimatnya, pria yang dipeluknya itu merasa tak nyaman.
"Tu...tunggu dulu, ada yang sedikit menganjal, apa kau merasakannya ?" Ucap mavin sembari melepas pelukan emely perlahan-lahan.
"A..apa itu ? Jangan-jangan kau ?" Cetus emely dengan wajah sinisnya.
"A..a..bukan apa-apa kok, hanya sebuah sapu yang mengganggu" jawabnya dengan senyuman yang merasa bersalah.
"Ayo berpelukan lagi" singkatnya.
"Plaaak... !!" Diberilah pelukan tangan yang lebih hangat dari sebelumnya, kali ini mendarat dipipi kirinya.
"Aaaa..... kau wanita kejam. Awas kau, tak akan ku bantu lagi kau !!"
Merasakan ganasnya cap lima jari milik emely membuat rasa kesal terhadap wanita itu kembali mencuat dari dalam dirinya lagi. Emely akhirnya berlari meninggalkan mavin yang menderita kesakitan dibelakangnya. Tidak lupa, emely menghadiahkan sebuah lidah yang menjulur kebawah kepada mavin. Hilanglah emely dari pandangan mavin yang tersungkur dilantai.
"Gadis yang luar biasa" kata-kata penutup mavin untuk hari itu pun terucap, sebelum beranjak berdiri. Sebuah senyuman diwajahnya diibaratkan sebagai hadiah terima kasih atas tamparan dipipinya.
~BersambunG~
Nantikan kelanjutannya sesegera mungkin...
:v
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar